Dalam waktu waktu senggangku, aku selalu teringat akan hal hal yang dulu pernah aku lakukan. Baik dengan Winda ataupun Grace. Sudah lama berlalu, namun dalam ingatan seperti baru kemarin terjadi. Aku pun seperti diburu perasaan bersalah yang sangat besar. Kadang pikiranku tak tenang saat bayangan masa lalu itu hinggap di kepala. Aku ingin memulapakan. Namun, semakin keras aku melupakan, semakin nyata terlihat baying baying masa lalu itu. Aku takut, takut sekali. Ingin menangis, namun air mata tak bisa keluar. Aku ingin melupkan itu semua. Dan aku ingin pendampingku kelak bisa membantuku melupakan hal itu.
Akhirnya aku nyatakan perasaanku kepadanya. Dua kali aku mengatakan,
“Aku suka kamu, mau nggak jadi pacarku?”
Dan dua kali pula ia mengatakan,
“Maaf, Wa. Aku nggak bisa.”
Aku tak tahu apa yang ada di pikirannya; di hatinya. Makin dalam aku menyelami keduanya, makin gila aku dijadikannya. Karena ulahku itu, ia sampai menangis. Hingga suatu hari, Ajeng mengubah semua pandanganku. Sehingga aku sedikit berhati hati dalam bersikap kepada Lydia. Dari sana juga, aku mendapat sedikit gambaran mengenai siapa ia sebenarnya.
Pertemuan kembali dengan Anindy, taman SMP-ku membuatku hampir gila sama halnya dengan Lydia. Karena sudah empat tahun kami nggak pernah bertemu. Karena semenjak lulus, kami tidak satu sekolah lagi. Dia di SMAK Untung Suropati, sedang aku di SMAN 2 SDA. Kini Anindy bekerja sebagai SPG. Dia nampak makin cantik dan dewasa, tidak seperti Anindy yang dulu ku kenal, Anindy yang manja, Anindy yang cengeng.
Malam itu aku bersama Indy dan Ayu yang dulunya juga teman teman SMP-ku datang ke rumah Anindy, karena sebelumnya kami sudah janjian. Namun, Nindy tak mengenaliku dan Ayu memberitahukanya. Kami berempat serasa seperti reuni kecil. Tak berapa lama, Ayu dan Indy pamit karena mau ke salon. Mau tak mau aku ditinggal berdua bersama Nindy. Senang namun sedikit grogi. Akhirnya kami berdua bercakap cakap seputar pekerjaan, kuliah dan masa masa sekolah dulu. Namun, kami berdua tak saling pandang. Mungkin karena kami masing masing sudah banyak berubah. Dia yang jadi semakin cantik dan aku yang jadi makin tinggi.
Aku mulai merasakan suatu getaran getaran saat itu. Mungkin aku suka dia. Entah bagaimana dengan dia. Ada kemungkinan dia juga begitu, karena dia sempat bingung saat bicara. Yah yah, aku terlalu mendramatidir situasi dan keadaan. Aku sempat tertawa memikirkan hal itu. Lucu sekali, seperti dalam cerita cerita saja, ‘Love at the first site.’ Aku menanyakan hal itu kepada teman genknya dulu saat SMP, Tanti. Setelah bercerita ini itu, dia mengatakan bahwa aku itu PLAYBOY karena suatu alasan, aku masih belum tulus dalam menyayangi seseorang, karena memang aku gampang suka dengan cewek.
Memang aku memiliki banyak teman perempuan, namun itu hanya sebatas teman. Memang benar juga aku suka dengan temanku sendiri, namun apa salahnya juga suka dengan teman sendiri, toh kami juga sudah saling kenal kurang dan lebihnya. Namun kenapa juga, ada yang tak menyukai sifatku ini.
Tahun ajaran baru sudah dimulai. Mulai marak diadakan ujian penyaringan masuk PTN. Di UNAIR animo calon calon mahasiswanya banyak sekali, baik saat SN-PTN maupun PMDK. Entah karena menyadari bahwa pendidikan itu penting tau hanya ingin punya gelar, aku tak tahu. Apapun alasannya aku tak peduli. Aku pun tiba saat KRS – KHS yang ke dua. Walaupun sedikit, IP-ku ada peningkatan dari yang sebelumnya. Sedang teman temanku kebenyakan mengalami penurunan, karena terlibat masalah percintaan. Aku pun demikian, namun aku tak sampai anjlok sedrastis teman temanku.
OSPEK pun dimulai, namun dengan format yang berbeda. Kali ini dilangsungkan selama dua minggu. Minggu pertama adalah pengenalan kampus. Sedang minggu ke dua adalah ospek fakultas. Kali ini namanya berbeda, BRADANAYA.
Tak banyak yang berubah seperti OSPEK tahun lalu. Para MABA masih disuruh membawa yang aneh aneh. Namun, kali ini tak seberat seperti tahunku. Sedikit iri aku terhadap OSPEK kali ini. Dan juga, suasananya tak setegang tahun lalu. Terlihat dari wajah wajah para MABA. Entah karena memang format acaranya yang tak seberapa tegang atau memang para MABA yang apatis. Tiba hari penutupan, ini yang aku suka, bentak bentakan terakhir. Lucunya, sempat ada kesalahan bicara dari Tim Dis. Dan juga, ada MABA yang sampai menangis. Akhirnya, siraman terjadi. Semua bersoak gembira dan saling bersalaman sambil berbasah basahan.
Setelah OSPEK, ada kegiatan display BSO dan HIMADEP. BSO-ORMAWA SKKP pun harus mengadakan display tersebut. Aku yang terlibat di dalamnya mendpat bagian madding. Tapi aku menyebutnya SKAPEDING. Yitu madding dengan artikel artikel yang bertajuk pada tema yang diberikan. Dalam madding itu, aku, Danu dan Jovita mengusulkan bidang berbentuk salib yang tertancap di sebuah bukit. Aku bertugas membuat bukit itu. Danu dan Jovita bagian salib. Untukartikelnya, masing masing dari kami mengumpulkan.
Dalam pembuatan replica bukit itu, ternyata tak segapang seperti yang aku kira. Namun, akhirnyaq selesai sesuai dengan konsep yang ada di pikiranku. Hmmm… tak sia sia aku mengerjakannya. Walaupun sedikit susah, namun hasilnya memuaskan.
Masalah utama yang sedikit membingungkan yaitu biaya. Karea kas SKKP yng terbatas, akhirnya diputuskan untuk berjualan snack dan merchandise saat display esok. Karena dana yang didapat itu nantinya akan digunakan sebagai dana tambahan untuk Welcome Party MABA Kristen September esok.
Tak hanya biaya WP, dana untuk NAKAYOSHI NAITO pun mengganggu. Karena tak sebanding dengan dana yang tersedia. Aku sebagai Kadep Danus sempat kelabakan. Namun, aku sedikit tenang setelah panitia NN menjelaskan perincian dana itu. Walaupun pada akhirnya aku masih memikirkan hal itu.
“SORRY GAG BERMAKSUD BACA…….
SEHARUSNYA KAMU BISA BELAJAR DARI PENGALAMAN2 MU ITU DEWA!!!!
COBALAH UNTUK NGERTI SEDIKIT AZ FEEL CEWEK! JUJUR KARENA SELAMA INI KAMU NGGAK NYADAR SEDIKIT BANYAK YANG KAMU LAKUIN MEMBUAT CEWEK2 DI SEKITAR U TERGANGGU. TAPI ITU SEMUA TERGANTUNG KAMU KARENA KAMU YA TETEP KAMU. AKU HANYA KASIH SARAN BERDASARKAN CERITA TEMAN2.
AKU SIH NGGAK MASALAH KARENA AKU LET ENJOY AZ TAPI AKU DAN MEREKA NGGAK SAMA.
WA,, INGAT! KAMU BUKAN LAGI ANAK KECIL PANDANG MASA DEPAN MU LEWAT PANDANGAN USIAMU BUKAN LEWAT PANDANGAN MASA LALUMU…………….
KARENA GAG SELAMANYA YANG KAMU INGINKAN ITU SEMUA TERWUJUD SETIDAKNYA KAMU BISA BELAJAR DARI ITU SEMUA. GANBATTE!!
COBALAH MENCINTAI DARI HATI JANGAN LEWAT SEKEDAR PANDANGAN MATA……
CINTAI SESEORANG YANG BISA BIKIN KAMU ENJOY DAN MENJADI KAN KAMU JADI YANG LEBIH. KARENA AKU NGGAK INGIN KAMU NGALaMI HAL YANG LEBIH MENYAKITKAN DARI AKU . KENAPA? KARENA YESUSLAH, AKU MENGASIHIMU BUKAN HANYA SEBAGAI SEORANG TEMAN TAPI JUGA SAHABAT DAN SAUDARAKU.
YOU KNOW ME……………………………………
WHAT ARE WE DOING ABOUT OUR LIFE?
LIFE WITH LOVE OR LIFE WITHOUT LOVE?
GBU DEAR……………….”
Aku tak menyangka mendapat perkataan itu. Entah siapa yang mengatakan, aku tak tahu. Tapi, sangat menusuk sekali kata katanya. Namun, ia hanya menialai luarku saja. Ia tak mengenalku sampai dalam. Tapi, ya sudahlah.
Pertemun kembali dengan teman lama memang menyenangkan, apa lagi jika teman itu adalah cewek, hehehe…. Yah, aku bertemu lagi dengan Dewi, temanku semasa SMP. Sebelumnya, aku sudah sering ketemu dia di jalan. Namun, kali ini dia berada di kandang yang sama denganku.
Hari itu adalah OSPEK hari ke tiga di kampus. Aku datang ke kampus karena ada keperluan organisasi. Tak sengaja aku melihat Dewi diantara ratusan MABA di fakultasku. Yah, seneng bisa bertemu teman lama, tapi aku yakin kalau ia pasti tak mengenali aku, secara, waktu SMP dulu aku tak pernah bertegur sapa dengannya. Aku hanya tahu dia, karena dulu dia mendapat julukan “sepat”. Entah karena apa ia mendapat julukan itu dari teman teman.
Dewi semasa SMP dan sekarang jauh berbeda. Yah, bisa dibilang ia menjadi sosok perempuan, bukan lagi anak perempuan. Entah karena perasaanku saja atau gimana, aku tak tahu. Namun, itu yang rasakan saat itu. Suatu hari, ia menyapaku,
“Eh, kamu dulu kan temen SMP-ku kan? Kok gak nyapa sih?”
“ya… maaf, aku kira kamu gak kenal aku, ya gak aku sapa”, jawabku.
“Aku itu tahu kamu, Cuma aku takut nanti aku salah orang, malu donk….”
“Aku juga uda tahu kamu pas OSPEK kemarin dan aku gak nyangka kalau kamu bakal nyapa aku.” Kataku.
Semenjak itu, aku sering berinteraksi dengannya. Yah… mumpung lagi kosong…. Kami pulang-pergi kampus bersama. Suatu hari ia mengajakku jalan ke Royal. Aku sih oke oke aja, sekalian me-refresh-kan pikiran, lebih lagi sama cewek, hehehe…. Di sana, ia membeli beberapa baju, tapi aku sampai BT karena ia keluar-masuk butik yang ada di sana. Dan yang paling membuat aku BT saat ia mengatakan,
“Kamu itu gimana sih Wa, masa gak bisa kasih pendapat mana baju yang bagus. Gak kayak pacarku aja yang pinter milihin baju buat aku.”
mendengar itu, mood-ku berubah drastis. Gila aja, aku jalan sama cewek orang. Sebisa mungkin, aku tak menunjukkan ke-BT-anku. Setelah capek memilah-milh, akhirnya pulang.
Esoknya, gantian aku mengajaknya ke suatu tempat, ke Oriflame. Aku mengajaknya mengambil orderan. Tak kusangka hari itu bakal makan waktu yang lama. Mau tak mau harus menunggu hingga satu jam mengantri. Namun, sebisa mungkin aku membuatnya tetap tersenyum. Akhirnya selesai juga. Dan kami pun pulang. Namun aku merasakan hal yang aneh saat perjlanan pulang. Entah hal itu benar atau hanya perasaanku saja. Yang jelas, ia memperlakukanku layaknya pacarnya sendiri. Aku tak mau menyimpulkan apa apa dulu. Aku hanya membiarkan hal itu terjadi.
Sesampainya di rumah, aku sms dia,
“De’.. makasih tadi mau nemenin, makasih tadi mau nungguin, makasih buat yang di jalan. De’.. kayaknya aku suka sama kamu.”
Aku nggak tahu apa yang sedang terjadi terhadapku. Aku hanya mengatakan apa yang aku rasakan waktu itu. Aku teringat lagi terhadap perjuanganku mengejar Lydia dulu. Hanya rasa sakit yang aku dapat pada akhirnya. Aku tak mau mengalami hal itu lagi dengan Dewi. Mungkin suatu kesalahan aku mengatakan bahwa aku suka dengannya. Terlalu cepat.
Jawaban yang tak aku kira sebelumnya. Dia juga mengatakan bahwa ia juga suka terhadapku, tapi ia juga tak mau terlalu cepat mengambil keputusan. Terlalu cepat. Ia menasehatiku dan meyakinkan aku ini dan itu agar aku yakin dengan perasaanku. Supaya nantinya tak ada yang tersakiti. Memang benar, tak ada yang mau disakiti. Karena itu, aku jalania saja hari hariku dengannya sesuai dengan kata kata Niken.
Aku jalani hari hariku dengannya. Aku berusaha agar tak putus komunikasi denganya. Dengan itu, aku mungkin aku bisa mengenal siapa Dewi itu, seperti yang pernah aku lakukan kepada Lydia. Rasa senang, sebel dan hampir marah mewarnai. Sampai sampai aku tak mengerti apa yang sedang aku rasa. Namun, hal itu bisa hilang saat hari berganti.
Seiring waktu berganti, aku mulai sayang terhadapnya. Entah bodoh atau jujur, aku mengatakan hal itu kepadanya. Namun, ia menganggapnya seperti angin lalu, karena hanya lewat sms. Suatu sore, sku miminta kejelasan tentang perasaannya terhadapku, apa benar ia sudah punya pacar, bagaimana statusnya, bagaimana kelanjutan hubungan denganku. Namun, moment itu hanya menemi jalan buntu, karena ia hanya memutar mutar perkataan dan menghabiskan banyak waktu. Ak hanya berpikir mungkin ini belum waktunya. Hal ini berulang hingga beberapa kali. Sebel aku dibuatnya namun kenapa aku masih mencari keberadaanya. Hal ini sama seperti yang aku alami dengan Lydia.
Pada senin sore, ada suatu hal yang tak terduga terjadi. Aku dan dia berciuman, padahal diantara kami tak ada status yang resmi. Aku masih ragu, apakah ia memiliki rasa yang sama denganku atau tidak. Hal ini berawal saat kami berdua berada di SAC fakultas. Dia selalu mencuri perhatianku dengan mendekatkan wajahnya yang mungil itu ke arahku. Aku sempat bertanya kepadanya,
“Kamu minta di cium tah De’..?”
“Ya kalau kamu berani..” katanya manja.
Awalnya aku hanya mencium keningnya. Namun sekali lagi ia menggodaku. Dan akupun mencium hidungnya. Lagi lagi ia melakukan hal yang sama, akhirnya aku mencium tepat di bibirnya dua kali. Kejadian yang aneh buatku.
Karena ada acara BukBer jurusannya, maka aku menemaninya. Sambil menunggu, ia mengajakku ke warnet. Di sana pun ia mengodaku lagi. Sampai akhirnya aku menciumnya lagi. Namun anehnya, ia yang terlihat menghayati. Tersadar aku dari situasiitu, aku menoleh, dan kami tertangkap basah oleh pengguna computer lain, namun kamu dibiarkan saja. Aku langsung menghentikan hal itu. Kami berdua merasa malu bukan main dan menjadi salting sendiri. Keluar dari warnet, kami hanya tertawa sendiri. Sungguh hal yang lucu. Namun, saat di rumah, saat telpon telponan, kami bertengkar tentang ciuman itu. Aku tidak merasakan kesan apa apa dan menganggapnya separti de-ja-vu saja dan nyesel sudah melakukan hal itu. Namun, tak kusangka Deewi bakal sewot mendengar perkataanku. Ia menganggap aku tak menganggapnya berkesan. Dan ia mulai menyalahkan aku ini dan itu, juga mengejekku,
“Katanya master of kissing, tapi tadi apa?! Nggak berkesan sama sekali. Aku juga nyesel uda ciuman sama kamu.”
Hal itu memang tak berkesan, namun kenapa aku masih mengingatnya. Apa karena aku merasa bahwa ia sayang padaku atau hanya nafsuku saja. Yah… aku biarkan itu berlalu saja (namun aku mengharapkan hal itu terjadi lagi). Sekarang ini aku merasa sebel terhadap Dewi. Dia selalu berbuat seenaknya denganku, namun kenapa aku tak menolak walaupun sebenarnya sebel. Sebenarnya ia benar benar sayang aku atau tidak, aku makin bingung dengannya. Memang, perempuan itu menyebalkan, namun tak lengkap jika dunia ini tanpa kehadiran perempuan.
Tak kusangka dia berani menciumku lagi. Ini terjadi saat acara BukBer bersama teman PPKMBnya. Tentu saja saat tak ada orang. Hari itu ia mengajakku ke acara BukBer di kampus A. sebenarnya aku tak mau, namun, aku tetap saja menemaninya sampai selesai. Di sana, seperti biasa, dia langsung meninggalkan aku. aku tak seberapa peduli, aku melanjutkan menulisku. Namun, semakin dibiarkan, ia semakin tak memperdulikanku dan semakin seenakya saat itu. Bisa dibayangkan betapa sebelnya aku saat itu. Aku ditinggalsendiri dengan barangnya, sedang dia asik bercengkramah dengan teman temannya. Aku hampir melepas emosiku. Entah apa jadinya kalau aku sampai lepas kendali. Terkesan sepele memang, namun jka dari hal sepele ia tak peduli, bagaimana jika berhadapan dengan hal yang serius.
Setelah mondar mandir karena tak tahu harus apa, aku merebahkan diri di bangku panjang yang ada di sana. Mungkin ia tahu aku sedang gelisah, lalu ia keluar dan menghampiri lalu duduk di sebelahku. Dengan wajah yang innocent, ia berkata,
“Kamu kenapa sih, Wa? Kamu ngantuk tah? Capek? Mau aku pijitin tah?”
sontak aku berkata, “Kamu itu kok gak bisa ngertiin aku sih De’..? egois banget..!! gak peduli sama aku.”
tak kusangka, ia langsung menciumku. Aku lagsung luluh dan menerima ciumannya itu. Aku tak sanggup untuk meluapkan kesuntukkanku walaupun aku masih merasa sebel. Ingin aku mengulang moment ciman itu, namun dengan situasi yang berbeda.
Kemudian kami pulang. Aku hanya diam menanggapi pertanyaannya. Dengan sedikit emosi yang tersiasa, aku menyetir motor dengan sedikit ngebut. Namun, aku tak mengambil rute yang biasanya, aku lewat rute belakang. Lalu ia bertanya dengan panik,
“Wa, kamu mau bawa aku kemana? Ke rumah nenekmu tah? Kamu jangan main main, ini mau kemana? Aku nggak boleh kalau malem malem.”
“aku mau nyulik kamu, terus, kamu mau aku apa apain (dengan sedikit tertawa).” Kataku.
“Oalah, ini lewat Rungkut industry tho. Kirain mau kemana, kamu itu bikin ak takut ajah. Gak tamabah jauh tah lewat sini. Kamu mau ngapain aku?” sahutnya.
Sempat aku berpikiran untuk melakukan hal yang tak senonoh terhadapnya, namun aku mengurungkan niat itu. Aku tak berani, walaupun sebenarnya aku kepingin cium dan peluk dia.
Aku seakan akan tak ada kerjaan saat ia tak ada. Sepi. Ada yang hilang. Ingin sekali bersama dia terus sepanjang hari. Apa aku memang jatuh cinta dengannya? Aku sendiri tak tahu. Apakah ia juga meerasakan ha yang sama denganku? Aku juga tak tahu. Aku belum mendapat kepastian darinya.
Sudah tiga hari Dewi mendiamkan aku. tak ada kabar sama sekali tentang dia. Sms-ku tak pernah dibalasnya dan telponku tak pernah di angkatnya. Selama tiga hari itu pula aku seperti kehilangan sesuatu. Sesuatu yang sudah menjadi bagian hidupku. Aku selalu berusaha mendapatkan tanggapannya dengan sms ataupun telepon. Hingga aku akhirnya sms,
“Susah banget minta maaf ke kamu. Aku nggak mau nunggu sampai lebaran buat minta maaf. De’.. maafin aku karena aku nggak bisa ngertiin kamu, aku nyebelin, aku egois, aku nggak peka. Mungkin nggak guna, tapi ku mohon maafin aku. Makasih buat yang kamu kasih ke aku. Perhatianmu, pelukanmu, ciumanmu. Maaf aku nggak bisa bales itu semua. Tentang perasaanku, aku masih sayang kamu, Dewi.” Inipun tak ia gubris.
Akhirnya ia sms setelah aku sms,
“De’.. aku nggak kuat kalo mbok giniin terus, sampe kapan aku mbok diemin kayak gini? De’.. I can’t stop to think about you. I can’t kill or make you out from this mind. I suer I’m not liying.”
“Wo, maaf banget sebelumnya. Aku benere juga nggak tega giniin kamu. Tapi kalo aku terus terusan ngelanjutin hubungan kita, aku takute suatu saat nanti aku bakalan lebih nyakitin kamu. Jadi, lebih baik sekarang aja diakhiri.
Aku tak menyangka Dewi bakal setega itu. Kenapa langsung berubah 180 derajat. Lain sekali dengan perkataan perkataanya sebelumnya.
Sudah hampir satu minggu Dewi mendiamkan aku tanpa kepastian. Selama itu pula aku merasa tak ada sesuatu yang berguna yang bisa aku lakukan. Ditambah lagi kondisi fisikku yang sempat menurun karena memikirkan hal ini. Yang aku lakukan hanya rutinitas biasa dan sesekali melihat HP, barang kali Dewi mengirimkan sms. Namun nihil. Walaupun hanya satu bulan dekat dengannya, serasa seperti sudah setahun pacaran. Dan walau hanya hampir sepuluh hari tak bertemu dia, serasa brtahun tahun berpisah. Hal ini sama, namun sedikit lain dengan saat aku mendekati Lydia. Dewi lebih dingin. Kenapa selalu cinta yang bertepuk sebelah tangan yang aku dapat? Apa ini karma?
“Dari dulu, begitulah cinta. Deritanya tiada berakhir.”
Cinta… cinta… makanan apa itu. Bergelut dengan cinta, harus siap dengan segala resikonya. Siapa yang bodoh dalam hal ini? Kenapa aku selalu merasa tersakiti?
“…Cinta ini membunuhku…”
why… why… why…. Aku tak beruntung dalam hal ini. Apa aku harus mempermainkan perempuan lagi seperti waktu dulu supaya rasa sakit ini hilang. Kenapa aku serba salah melakukan sesuatu? Tak ada kontak berarti dari Dewi, hanya miscall saja. Itupun setelah aku sms yang menyatakan bahwa aku kesepian. Liburan yang menyebalkan…!!!
Masih tak ada kabar tentang Dewi. Aku di sini menunggu dan ingin segera bertemu untuk menyelesaikan ketidakjelasan ini. Tapi, liburan ini menghalangiku. Meskipun begitu, aku sedikit teringankan beban pikiranku, karena aku bisa membuangnya sedikit saat latihan badminton kemarin.
“Dewi… Dewi… ada apa sih sama kamu itu? Sebentar manis, sebentar lagi jutek. Dan kenapa juga aku bisa suka dan sayang kamu? Apa karena ciuman waktu itu?”
Memang sih, kalau sekarang mengingat lagi tentang ciuman waktu itu, lucu sekali. Entah kenapa kesan dari ciuman itu baru terasa sekarang.
“Dewi… Dewi… what do you’ve done to me? You make me crazy for you.”
Akhirnya Dewi membalas sms-ku, tapi knapa nada smsnya selalu menyalahkan aku dan ngajak debat. Aku hanya bisa mengalah.
“De’.. pasti kamu dah tidur, sory ya sms malem malem, coz aku kangen kamu. Dari tadi aku Cuma bisa ngeliati kamu lewat foto yang mati dan bisu aja. Lama aku amati, aku gak tau kenapa aku suka kamu. Mungkin cinta agape.”
“Aku pernah berada pada posisi kamu seperti sekarang, mungkin lebih parah. Aku tau rasanya pasti sakit dan menyiksa sekali. Tapi aku coba tegar hadapi semua dan itu yang membuat aku tau apa arti cinta sebenarnya.”
“Campur aduk De’ rasae. Pengen aku megang pipi dan bibirmu kayak yang aku lakuin ke fotomu. Tapi… yah.. kamu entah dimana ninggalin aku. hehe^^. De’.. kamu segitu maksanya ta gak mau berhubungan lagi ma aku?”
“Nafsu! Itu perbedaan apa yang kamu rasa ke aku. yang aku rasain dulu padanya bukan itu, tapi perasaan sayangyang tulus. Dan aku gak pernah meminta or menuntut apa apa darinya, karena aku sadar aku gak punya hak.”
“oke, aku emang yang salah… maaf…. Kalo kamu gak nuntut apa apa, kenapa se De’ kamu kok ngilang dan sembunyi dari aku? perasaanmu ke aku, aku gak tau apa masih ada, tapi rasaku ke kamu ini masih ada. Aku gak tau harus diapain.”
“Lupain! Itu yang harus kmu lakuin! Aku gak pernah meminta or menuntut kepada orang yang aku sayangi. Tapi coba kamu liat denganmu? Kamu terlalu banyak menuntut dan meminta dan hal itu hal yang paling gak aku suka darimu.”
“You getting cold, De’. Is that you or your mask? How to forget someone whom we love? Apa yang selalu aku tuntut darimu, De’? apa aku yang minta jawaban termasuk sebuah tuntutan bagimu?”
“Introspeksi diri! Mungkin itu salah satu bentuknya. Masih banyak pilihan di dunia ini, masalahnya kamu masih belum nemuin. Oke! Jangan pernah mengatakan kamu cinta kepada orang itu tapi sebenarnya kamu belum tau apa hakikat arti cinta yang sesungguhnya! Perasaan yang kamu rasa ke aku itu bukan cinta, Cuma obsesi/sesaat aja. Wez aku ngantuk tak tidur dulu.”
Berulang kali aku membca sms sms itu, tapi aku masih belum mengerti dan belum nemu akar penyebab berubahnya sikap Dewi yang spontan itu. Aku tak sabar untuk segera masuk kuliah dan keluar dari liburan yang menyebalkan ini. Karena aku ingin menyelesaikan masalah ini supaya tak membebaniku terus terusan. Aaaaaargh…!!!!
Sepertinya hubunganku dengan Dewi benar benar hancur. Diajadi cewek yang dingin. Sikapnya yang tak memperdulukanku walaupun aku lewat di depannya. Matanya yang menghindari pandanganku. Dan nada bicaranya yang sedikit ketus dan menghindari percakapan dengan alasan ini dan itu.
Sampai sekarang, aku tak tahu kenapa ia sampai begitu berubahnya padaku. Seakan akan dia tak mau memaafkan aku, atau bahkan mungkin dia jijik terhadapku. Aku sudah menyusun rencana penyelesaian dan kejelasan tentang bagaimana hubungan kami selanjutnya. Aku harap, besok bisa berjalan lancar. Aku sudah capek dengan ini semua.
Dewi… dewi… aku dibuat bingung olehnya. Sejenak aku bisa melupakan masalahku dengannya. Namun, kemarin saat bertemu dengannya, aku jadi teringat lagi akan sikapnya yang berubah itu. Aku jadi orang yang sensitif. Lebih gila lagi, aku jadi seperti orang yang tak bermanfaat. Karena dia memalingkan mukanya saat melihatku. Aku sampai heran dengan hal itu.
“Apa ada yang salah dengan mukaku, sampe sampe dia membuang muka saat melihatku” tanyaku ke Dini.
Aku berusaha melupakan semua. Namun kenapa terasa berat. Mungkin memang nggak bisa langsung instan, seperti aku dengan Lydia dulu. Entahlah bagaimana kelanjutannya. Sekarang ini aku sedang menyibukkan diri dengan urusan di kampus untuk melupakannya. Bisa dibilang aku mencari pelarian. Namun, mungkin ini yang terbaik. Walaupun badan ini jadi lelah. Dengan urusan ini dan itu sembari aku mencari pengganti dirinya.
Akhirnya semua selesai. Apa yang ingin aku katakan sudah aku katakan. Namun jawabannya bukan seperti yang aku harapkan. Hampir aku marah terhadapnya. Namun, aku tak mau image diriku jelek di matanya. Aku hanya bisa menahannya dalam hati walaupun sebenarnya sakit aku rasa.
“Wa, kamu masih sayang aku tah?” tanyanya. Aku tak tahu kenapa dia menanyakan hal itu. Aku takut mengakui hal itu.
“Kamu gak usah tahu jawabanku dan aku gak perlu jawab.” Jawabku.
“Sudahlah, kamu jawab aja. Kamu masih sayang tah sama aku?” sambungnya.
“Ya, aku sayang sama kamu. Tapi, kalau ini sudah keputusanmu, aku gak mau maksa kamu buat suka aku, coz aku gak mau terlihat buruk di matamu.” tegasku.
Pedih perasaan ini. Memang kenyataan tak selalu berjalan sesuai rencana. Aku pingin menagis. Dua kali aku dipermainkan orang yang aku sayang. Aku ta atahu sekarang harus mulai dari mana. Satu bulan memang singkat, tapi biarlah hubungan itu menjadi kenangan walau terselip luka di akhir cerita. Akan aku ingat terus dirimu, tawamu, senyummu dan sentuhan tangan lembabmu di pipi ini, Dewi Purnamasari….


0 komentar:
Posting Komentar