perjalanan bocah part 4 - kuliah

| Rabu, 15 September 2010 | |
MASA KULIAH
Akhirnya aku memasuki babak baru dalam hidupku, aku memasuki bangku kuliah. Bisa dibayangkan setelah lama menunggu selama hampir satu bulan setelah SPMB, akhirnya aku masuk juga ke UNIVERSITAS AIRLANGGA, sebuah universitas terfavorit di Surabaya. Dan aku juga masuk kedalam jurusan yang aku idam idamkan; Sastra Jepang. Motifasiku masukkesna adalah karena aku suka sekali hah hal yang berkaitang dengan negeri Sakura itu. Sebuah negeri impian buatku sejak aku SMP.
Kedua orang tuaku sangat senang sekali, karena aku masuk ke sebuah perguruan tinggi negeri ternama dengan tanpa banyak biaya. Sebelumnya, aku sudah mendaftar ke salah satu perguruan tinggi swasta sebagai cadangan. Namun aku lebih memilih UNAIR, karena aku bisa meringankan beban orang tua dengan tidak memberatkan dengan masalah biaya yang tak terlalu banyak.
Agenda rutin di dunia kampus yaitu OSPEK atau sama dengan MOS untuk mahasiswa baru. Awalnya memang kelihatan sperti sebuah seminar, karena banyak ceramah. Tapi, mendekati hari akhir, ternyata kami para MABA disuruh membawa dan membuat sesuatu sesuai dengan ketentuan yang dibacakan dan kami dibagi kedalam kelompok kelompok. Gila…. Repotnya bukan main saat OSPEK hari itu. Bawa danbuat inilah, itulah hanya dalam waktu sehari. Hampir tidak tidur aku dan kebanyakan teman teman untuk menyelesaikan tugas tugasyang diberikan itu. Ditambah lagi, kami harus datang pagi pagi pula untuk sarapan bersama. Rumahku jauh pula…. Parahya lagi, pke acara bentak bentak nggak penting banget. Jadi ngantuk dan bosan. Terkesan seperti kegiatan balas dendam dari senior ke juniornya, juga terlihat pemisah antara senior dengan juniornya.
Namun, saat hari terakhir, ada acara art show dari maba. Ada band performance, vocal group dan drama. Semua terjadi secara dadakan. Asik juga. Penutupannya juga tak kalah asik. Ada acara SIRAMAN. Sebelumnya, kami dibentak bentak nggak penting dulu saat akan menyelesaikan kegiatan artSow di lobby. Lalu kami disuruh berkumpul ke tempat parkir secepatnya, berbaris, memakai penutup mata dan dibentak bentak nggak penting lagi. Setelah itu, datang mobil tanki dengan penuh air di dalam tankinya. Dimulailah acara SIRAMAN kami. Kami bersorak sorak gembira. Karena hari penderitaan dan bentakan bentakan nggak penting telah berakhir. Kami semua, MABA dan panitia basah kuyup dan bergabung satu sama lain untuk saling meminta maaf atas semua yang terjdi selama OSPEK satu sama lain. Gila…. Aku hamper masuk angin karena baju dan celanaku yang basah kuyup dan terkena angin saat pulang. Sungguh mengesankan.
Akhirnya kuliah pertama dimulai. Aku menjalani hari hari pertama di bangku perkuliahan. Di awali dengan perkenalan satu sama lain. Masih canggung memang, karena kami belum salin kenal. Terlebih harus dengan bahsa Jepang. Memang tak semua punya basic bahasa ini. Walaupun aku punya sedikit basic, namun aku tetap canggung di hadapan teman teman. Atas kebaikan dosen kami, kami yang masih canggung dibimbing bagaiman harus berkata.
Seiring waktu berjalan, akhirnya kami bisa saling akrab dan kompak satu sama lain. Kemana mana selalu bergerombol. Terlebih saat ke kantin. Terkesan seperti sebuah genk yang memBOOKING satu meja kantin.
“Mau kemana setelah kuliah?” kata Nononk.
“Kantin ajah, laper aku, mumpung masih sepi.” Sahut Robby.
“Ya udah, AYO…!!!” kata Nononk keras.
Yah, Nononk memang begitu, super aktif, kelebihan tenaga dan rame. Sehingga, kalau tak ada dia nggak rame (nggak ada loe nggak rame). Meman, jika salah satu dari kami tidak masuk, akan terasa kurang. Dosen kami pun merasakan hal yang sama terhadap kami.
Hampir satu minggu kami kuliah, OSPEK ke dua kami dimulai, dengan nama NAKAYOSHI NAITO atau malam keakraban. Ternyata , hampir tak ada bedanya dengan OSPEK kemarin, kami masih disuruh membawa dan membuat yang aneh aneh. Sungguh merepotkan. Namun tak semua dari kami ikut dalam OSPEK kali ini. Hari itu pun tiba. Barang barang yang aku perlu dan harus aku bawa sudah masuk dalam tas. Kami semua berkumpul di depan fakultas. Sambil menungu bus, kami me-recheck kebali barang bawaan kami. Lama kami menunggu,bus tak kunjung datang. Ternyata ada miskmunikasi antara supir dan panitia. Bus tak langsung datang karena salah tempat menunggu. Waktu keberangkatanpun menjadi mundur empat puluh lima menit dari jadwal. Akhirnya, kami pun berangkat dan bus pun melaju.
Selama perjalanan, ada sedikit testimonial dari panitia dan dosen yang ikut serta. Kami tak seberapa memperhatikan. Ada yang bergosip dan menyanyikan lagu lagu band Jepang favorit ataupun soundtrack film anime. Wah… ramai sekali di dalam bus. Kami semua sperti tak ada habisnya untuk bicara. Lain dengan para SENPAI, yang kebanyakan diamnya. Setelah setengah perjalanan, kami berhenti sebentar (entah dimana) untuk istirahat sejenak dan membuang hajat yang tertunda. Kamudian, perjalanan pun berlanjut.
Akhirnya kami tiba di tempat tujuan di sebuah vila yang bernama KAMISATO. Dan kami pun dibagi ke dalam sejumla orang untuk setiap kamar dan pastinya terpisah antara laki laki dengan perempuan (kalau jadi satu lebih enak tuh).
“Ayo KOHAI KOHAI sekalian sekarang pembagian kamar ya, kumpul sebentar. Yang namanya disebut, tolong yang disebut namanya untuk menggerombol dengan pasangannya dan akan diberikan kunci kamar, lalu menuju kamar masing masing untuk istirahat sebentar, kemudian berkumpuldi aula vila.” Kata panitia penanggung jawab.
Setelah beristirahat sejenak, kami berkumpul di aula vila. Agenda acara adalah mendengar sambutan sambutan tentang HIMA. Kemudian ada materi dari sensei tentang motivasi dan tujuan hidup. Tak hanya melulu materi yang disampaikan, tapi juga diselingi game acak puzzle yag di dalamnya terdapat sebuah peribahasa yang berkaitan dengan hidup. Menyusun puzzle bukan untuk perorangan, namun setiap orang mendapat satu potongan puzzle yang nantinya harus berkumpul supaya peribahasa itu jadi. Dengan ini juga, bisa saling merekatkan kekompakan antar mahasiswa. Dan juga ada acara nonton film komedi edukatif yang kemudian kami diskusikan bersama makna yang terkandung di dalamnya.
Menjelang malam, kami tak banyak kegiatan berarti, karena sebelumnya diisi oleh games games. Kami tanpa sengaja berkumpul di beranda belakang villa untuk bercengkramah sambil melihat pemandangan menjelang mahgrib. Setelah makan malam, ada permainan jelajah malam. Kami berkumpul menurut kelompok dan diberi instruksi. Seru memang, namun juga sedikit menjengkelkan. Karena ada dua orang senior yang sok angkuh, jadi pingin jitak itu orang.
Setelah waktu habis, akhirnya kelompokku yang menang. Senangnya…. Namun, dari kemenangan itu, sebenarnya harus dibayar dengan sebuah artikel untuk setiap kesalahan yang diperbuat. Sedang kelompokku entah berapa kali berbuat kesalahan. Namun, yang menarik adalah dua orang angkuh tadi menghapuskan kesalahan yang kami perbuat (kayak pengampunan dosa gitu deh..).
Suasana jadi meriah saat kami menampilkan artshow dari masing masing kelompok. Kelompokku awalnya akan menampilkan sebuah drama. Namun karena kurang asik, kami harus mengubah semuanya. Untung ada Lidiya. Selain cantik dan manis, idenya embantu sekali. Kami akhirnya menampilkan puisi yang saling bersautan, namun nggak nyambung sekali. Kami semua tertawa terbahak bahak.
Penampilan kedua adalah drama pencuri, pendekar dan seorang putrid. Cerita yang biasa memang. Namun yang unik disini adalah sang putrid. Yang menjadi putrid adalah si Nononk. Gila..!! dia jadi terlihat manis dengan kimono yang dipakainya. Tapi sayang, suaranya masih nge-bass. Bikin ilfil, namun lucu. Improfisasinya pas sekali. Yang terakhir yaitu reality show. Tak seberapa menarik, namun sedikit menggelitik Karena tindakan aneh Gembul dalam memainkan perannya. Setelah selesai semua, ditutup dengan pembacaan puisi. Dan kami kembali ke kamar masing masing untuk istirahat.
Perjuangan tak berhenti hingga kami istirahat. Walaupun kami disuruh tidur, namun kami tak bisa tidur. Terutama aku, Alfian, Nononk dan Obenk nggak bisa tidur karena masih terbawa suasana art show. Berulang kali kami diperingatkan sampai akhirnya kami pun tidur. Belum ada dua jam kami tidur, ada insiden penculikan. Kejam..!!! karena aku mengantuk sekali. Kami diculik satu per satu dengan mata tertutup dari kamar kami untuk diintrogasi di suatu tempat, kemudian kami ditelantarkan kedinginan. Bbrrrrr…. Aku sampai menggigil. Jaket yang aku pakai tak sanggup menghalau dingin. Ditambah lagi aku memakai celana pendek, bisa dibayangkan betapa kedinginannya aku waktu itu. Untung saja ada pemberian the hangat bagi kami. Biarpun begitu, aku tetap merasa dingin.
Tiba ke acara puncak. Kami semua digiring ke suatu tempat yang lebih luas untuk dikumpulkan dan sedikit iintrogasi. Walaupun dingin, aku cob bertahan. Bbbrrrr…. Kemudian kami disuruh melingkar dan berpegangan tangan sambil mendengarkan sebuah renungan dan menikmati api unggun (walaupun sebenernya panasnya tak merata). Namun, suasana itu rusak saat adanya acara bentak bentakan. Yah, eperti OSPEK pada umumnya pasti ada bentak bentaknnya. Huh..!!! mengganggu sekali. Karena aku mengantuk, aku tak seberapa mempedulikan hal itu.
Pagi akhirnya datang. Bentakan itu menandakan bahwa sebenarnya acara sudah selesai. Setelah keadaan hening, kami semua diberi PIN sebagai tanga bahwa kami menjadi anggota HIMA Sastra Jepang. Kami membuka penutup mata dan saling berjabat tangan. Kemudian acara dilanjutkan dengan senam pagi bersama kemudian games pagi dan sarapan. Setelah mandi pagi, kami berkumpul untuk mengulas seluruh kegiatan yang telah dilakukan. Banyak sekali pendapat yang terlontar dan itu menjadi masukan bagi panitia. Setelah itu, ada acara tukar kado. Yah.. tapi sayang aku nggak dapat. Kemudian kami bersiap untuk pulang, namun sebelumnya kami singgah di pasar untuk mmbeli oleh oleh. Kami pun akhirnya pulang dan kebanyakan dari kami tertidur karena kelelahan. Memang melelahkan, namun mengesankan dan menyenangkan.
Akhirnya kuliahku pun dimulai lagi. Dengan semangat ’45 aku mengikuti kuliah hari demi hari. Namun, mata kuliahnya makin lama makin berat terasa. Dan nilaiku pun jatuh bangun. Aku pun khawatir nati IP yang aku dapat kecil. Tapi, kekhawatiran itu hilang dengan sendirinya. Hubungnku dengan Winda belum menjumpai masalah yang berarti, karena aku selalu menyempatkan diri bertemu dengannya. Sering aku bolos kuliah hanya untuk menemui Winda di sekolah, karena tak mungkin tiap malam aku keluar. Namun hal itu terasa makin menyimpang dari seharusnya. Aku menemui Winda hanya untuk memuaskan nafsuku saja.
Memang awalnya aku melepas kangen dengannya, namun karena situasi dan kondisi sekolah yang mendukung, aku sering bermesraan dengannya di kelas yang jarang di datangi. Memang awalnya hanya French kiss, namun karena diri ini sudah dikuasai nafsu, akhirnya menjalar kemana mana. Tangan ini mulai meraba raba buah dadanya, turun ke pinggang lalu meraba kemaluaannya. Hal ini terus berulang. Sampai akhirnya, kami berdua hampir dalam keadaan telanjang bulat di dalam kelas di lantai dua. Kami bercumbu di siang yang sepi. Nikmat terasa saat itu. Kami sama sama terangsang birahi. Tak jarang kami selalu ber-petting ria. Keadaan berlanjut hingga kami hampir melakukan hubungan sex. Namun hal itu selalu gagal karena Winda berontak untuk melakukannya.
“Dek, aku masukin mr. P-ku ke nona V-mu ya? Kan kamu sudah terbiasa pake jari, gak bosen tah kamu?” kataku.
“Nggak mau, kak. Kalo aku hamil gimana?” jawabnya.
“Halah, nggak apa apa, aku tanggung jawab kok. Lagian kita kan sering ngelakuin pake jari, nah sekalian aja gitu. Yah mau ya?”
“Nggak mau kak. Pake jari aja nggak apa apa. Jangan kamu masukin.”
Halah, ayo tah dek…!!!”
“Nggak mau…!!! Kamu jahat….”
Aku bisa saja terus memaksanya dan berbuat kasar, namun aku langsung tersadar dan menghentikan semuanya itu.
Tak berapa lama. Hubunganku merenggang dan entah mengapa aku merasa bosan. Aku pun menghilang dengan tidak mengiriminya sms. Selama hampir dua minggu. Hingga pada akhirnya aku mengatakan,
“Dek, kita putus. Maafin aku aku uda jadi orang yang nggak baik buatmu. Maaf aku uda berbut yang nggak seharusnya ke kamu. Aku sengaja membuatmu benci aku dengan aku berbuat ‘hal itu’ ke kamu tempo hari. Maafin aku dek, maaf. Kalo kamu ada yang nggak puas, ngomong sekarang. Kalo kamu pingin mukul aku, pukul sekarang.”
“Kenapa kak, kenapa?! Apa ada cewek lain? Jawab kak, jawab!”
“Iya, ada cewek lain. Kalo mau pukul aku, pukul sekarang. Biar kamu puas.”
“Buat apa, kalo itu sudah jadi keputusanmu, ya sudah. Aku trima aja.”
Aku tahu Winda pasti sangt terpukul. Namun aku harus melakukan itu sebelum semua terlambat dan aku akan lebih menyakitinya nanti.
Sebelum putus dari Winda, aku punya teman curhat. Berawal dari curhat via sms, akhirnya kami jadian sehari sebelum putus. Nama cewek itu Grace. Nama yang indah. Bulan pertama, hubunganku baik baik saja, nyaman nyaman saja. Kami belum menemui masalah yang berarti. Namun sepertinya aku mulai menyimpang. Aku hanya mengumbar nafsuku saja. Aku sering berciuman dengannya saat kami bersama. Terlebih saat di rumahnya, aku bebas melakukan hal itu tanpa ada rasa seperti sedang diburu. Karena kedua orang tuanya sedang bekerja. Parahnya, aku sampai melanggar batas batas dalam berpacaran, walaupun hal itu kini sudah umum terjadi. Aku melakukan hal yang sebenarnya tidak senonoh untuk dilakukan. Aku meraba raba dan memegang bagian sensitifnya. Sama seperti yang aku lakukan dengan winda. Sambil berciuman, tanganku berkelana ke buah dadanya, turun ke pinggang dan ke kemaluannya.
Ia tak keberatan aku melakukan hal itu, maka dari itu, aku makin sering melakukannya. Berawal dari di depan TV, sela ruangan, bahkan sampai di tempat tidurnya. Di tempat tidur itu, aku jadi makin gila. Di tambah lagi ia yang selalu memakai daster pendek saat di rumah. Membuatku cepat terangsang. Aku selalu ber-petting ria dengannya dan hampir melakukan hubungan sex. Namun, ia selalu mencegahku melakukan hal itu. Tak masalah kalau hanya Petting, asal tak berhubungn sex. Hal ini menjadi agenda wajib tiap bertemu. Namun tak hanya itu, kami juga saling sharing dan sempat memikirkan tentang bagaimana pernikahan kami kelak. Itu adalah hal yang manis yang aku rasakan.
Namun seiring waktu berjalan, masalah datang silih berganti mewarnai hubungan kami. Namun, dapat kami atasi. Namun juga tetap saja masalah itu datang. Hingga akhirnya meretakkan dan menghancurkan hubungna kami.
Keinginanku saat masuk di bangku perkuliahan adalah ikut kegiatan band kampus karena hobiku yang suka teriak teriak di depan komputer. Dan aku pun ikut dalam BSO music sebagai wadahku menyalurkan hobiku. Tapi, aku tak tahi jadwalnya kapan untuk latihan, sehingga pendaftaran itu seperti angin lalu saja. Namun untungnya, teman temanku mengajakku untuk join di bandnya, karena bulan desember ada acara music kantin yang diselenggarakan oleh BSO Musik
Satu bulan kami latihan. Dan yang pasti kami mengusung lagu lagu jepang dan soundtrack anime yang lagi hitz. Selama latihan, ada saja ketidakcocokan. Kurang inilah, itulah, ketinggian, kerendahan, kecepetyan, terlalu lambat, kurang keras. Mcam macam pokoknya. Namun, sampai hari dimana kami tampil, ketidakcocokan itu kami lebur dengan performance kami. Kami memainkan tiga buah lagu.
Yang pertama lagu dari Do As Infinity – Honjitsu wa Seiten Nari:
Aa nande konan de, Namida dechaun darou
Mou chotto mou chotto, umaku ieta nara na
Nee, doushitara ii no
Taiyou ga warau, dame dame na bokura
Subarashiki natsu ga nigeteku ze
Don’t mind sono, namida o fuite
Stand up for your life
Anata no kawari nante inain da
Yaritakute dekinakute, nankatsumanain da
Tsuyogatte ikigatte nanimo shitakunain da
Nee, doushitara ii no
Hito no sei ni shitari, gyakugire shitari
Dame dame na bokura kiete yuke
Hei guys sono praid o sutete
Go to your next stage
Jibun o norikoete change the world
Taiyou ga warau, dame dame na bokura
Subarashiki toki ga nigeteku ze
Don’t mind sono namida o fuite
Stand up for your life
Anata no kawari nante inain da
Ima changes the world. Do the best of you
kimi datte boku datte kidzuite inai dake 2x
Ame datte dame date honjitsu wa seiten nari 2x

Yang ke dua adalah lagu dari L’arc~En~Ciel – Blurry Eyes
Tooku no kaze o mini matou
Anata ni wa todokanai
Kotoba narabete mite mo
Mata shisen wa doko ka mado no mukou
Kawaranai yokan wa tsudzuite iru
Ano hibi sae kumotte
Kago no naka no tori no you na
Utsuru tame ni furete iru
Gogo no hizashi wa maru de Sasou hikari
Kawaranai yokan wa tsudzuite iru
Ano hibi sae kumotte shimau
Meguri kuru toki ni, yakusoku no ubaware sou
Kon ryoute sashinobete mo
Kokoro wa hanarete
Why do you stare at the sky with your blurry eyes?
Meguri kuru toki ni, yakusoku no ubaware sou
Kono ryoute sashinobete mo
Kokoro wa hanarete
Meguri kuru toki ni taisetsu na hito wa mo
Furimuita sono hitomi ni
Chiisa na tameiki
Your blurry eyes…… your blurry eyes
Your blurry eyes…… kokoro wa
Your blurry eyes…… hanarete
Your blurry eyes…… yuku


Lagu yang ke tiga adalah soundtrack dari Naruto – Flow – Go!!!Fighting Dreamer
We are fighting dreamers, takami o mezashite
Fighting dreamers, narifuri kamawazu
Fighting dreamers, shinjiru ga mama ni
Oli-o-li-o-li-o… just go my way
Right here right now (bang!!!), buppanase like a dangan liner
Right here right now (burn), buttakitteku ze get the fire
Right here right now (bang!!!), buppanase like a dangan liner
Right here right now (burn)
Kewashii shura no michi no naka
Hito no chizu o hirogete doko e yuku
Gukusaishoku no karasu ga sore o
Ubaitotte yaburisuteta
Saa kokoro no me mihiraite
Shika to ima o miki wamerou, yeah
Ushinau mono nante nai sa, iza mairou
We are fighting dreamers, takami o mezashite
Fighting dreamers, narifuri kamawazu
Fighting dreamers, shinjiru ga mama ni
Oli-o-li-o-li-o… just go my way
Right here right now (bang!!!), buppanase like a dangan liner
Right here right now (burn)
Oto o tatezu shinobi yoru kage ga
Itsumo bokura o mado wa seru
Yugenjikkou ooki na kaze ga
Uneri o agete fukiareru
Kazashita suru doi katana de
onore no asu kiri hirake, yeah
Hoshou o nante doko ni mo nai sa
Saa sou darou
We are fighting dreamers, takami o mezashite
Fighting dreamers, narifuri kamawazu
Fighting dreamers, shinjiru ga mama ni
Oli-o-li-o-li-o… just go my way
Right here right now (bang!!!), buppanase like a dangan liner
Right here right now (burn), buttakiteku ze get the fire
Right here right now (bang!!!), buppanase like a dangan
Right here right now (burn), buttakitteku ze get the fire
We are fighting dreamers, kono nakama tachi to
Fighting dreamers, subete o maki komi
Fighting dreamers, kokorozashi takaku
Oli-o-li-o-li-o…
We are fighting dreamers, takami o mezashite
Fighting dreamers, narifuri kamawazu
Fighting dreamers, shinjiru ga mama ni
Oli-o-li-o-li-o… just go my way
Don’t forget your first impulse ever, go my way
Let’s keep your adventurous ever, go my way
Don’ forget your first impulse ever, go my way
Let’s keep your adventurous ever, go!!!
Right here right now (bang!!!), buppanase like a dangan liner
Right here right now (burn), buttakitteku ze get the fire
Right here right now (bang!!!) buppanase like a dangan
Right here right now (burn), butaekitteku ze get the fire

Namun, saat tampil, aku hanya menyanyikan satu lagu, yang terakhir. Dua lagu yang pertama oleh temanku, karena band kami saat itu menggunakan dua vocalis. Walaupun begitu, performance kami begitu memukau penonton, karena sebelum sebelumnya belum ada yang seperti itu di acara musik kantin.
Tapi, sebelum tampil, ada suatu peresaan yang mengganjal. Karena aku sedang ada konflik dengan pacarku. Aku dikira selingkuh, padahal enggak, karena aku tak kenal sama perempuan itu. Memang aku sering sms-an, tapibelum pernah ketemu. Sebelum tampil, aku menunggu kedatangan pacarku untuk melihat penampilanku, namun ia tak datang juga. “Kamu dimana sih yank…???” gumamku dalam hati.
Seusai tampil, kami kumpul kumpul sebentar. Namun ada sebuah insiden kecil namun fatal. Kunci motorku hilang!!!! Karena sebelumnya motorku dipinjam temanku dan ia menghilangkannya. Aku kelabakan mencari bersamanya di jalan yang ia lalui sebelumnya. Aku bingung setengah mati.
“Gila kamu itu Dee…!!! Kok bisa jatuh sih??? Kamu apain??? Kamu dari mana ajah??? Tadi udah kamu cari tah??? Dimana ajah??? Gini ini gimana aku bisa pulang, coba lihat, bensinku tinggal dikit & kamu juga tahu rumahku dimana, so, mana cukup buat pulang???” teriakku panik.
“Ya maaf Wa, aku juga nggak tahu kok moro moro jatuh. Aku tadi Cuma nganterin Wanda ke tempat kosnya, pas aku balik kesini, tahu tahu udah gak ada. Aku tadi uda nyari, tapi gak ketemu.” Jelas Dini.
“Ya udah, sekarang kita cari lagi sampe ketemu. Kalau nggak ketemu, kita langsung nyari tukang kunci, buat kunci baru, tapi kamu yang bayar.” Kataku.
Aku dan Dini kembali menyusuri jalan yang Dini lalui. Akhirnya sampai di kos kosan Wanda.
“Nda, kamu tadi lihat kunci yang jatuh nggak? Kunci motorku jatuh. Si Dini tadi yang njatuhno.” Tanyaku ke Wanda.
“Lho, kok bisa sih??? Aneh banget.” Jawab Wanda.
“Lho Wa, aku kan tadi uda bilang nggak sengaja sih, awas kamu…” sahut Dini.
“kamu tahu dimana tukang kunci terdekat & harganya berapa kalau buat kunci baru?” tanyaku lagi.
Setahuku di dekat polres sana, mungkin delapan ribuan. Kemaren aku bikin duplikat kunci harganya ya segituan. Kamu coba ajah.” Jelas Wanda.
“Ya udah, domo. Aku mau nyari dulu, kalau nggak ketemu baru aku kesana. Moga moga ajah ketemu, soale aku gak bawa duit, hehehe.” Kataku.
Aku kembali menyusuri jalan tadi sampai ke kampus, namun tetap saja nggak ketemu. Ku tanya seorang tukang becak pun tidak membuahkan hasil. Akhirnya ku putuskan untuk pergi ke tukang kunci dengan mempertaruhkan bensin yang ada. Akhirnya aku tertolong, kuncinya sudah aku dapat. Namun, harganya mahal, lima belas ribu, karena aku lupa menawar, langsung bilang iya.
“Pak, bisa buat kunci, tapi kuncinya hilang?” tanyaku.
“Oh, bisa, bisa. Tak lihatnya dulu. Oke, lima belas ribu.” Kata sang tukang.
“Ya sudah pak”
“Tunggu sebentar ya?”
“Tapi pak, gak bisa kurang?”
“Wah, nggak bisa. Sudah segitu harganya. Gimana ini, jadi nggak?”
“Ya sudah pak” – “Gila, gak bisa ditawar, tapi kamu yang bayar lho Dee?”
“Kamu itu kesusu ajah Wa. Aku tadi mau nawar, kamu udah bilang oke ke bapaknya. Yoweslah aku yang bayar, tapi ini uangnya kurang.” Kata Dini.
“Aku tambahin dikit, tapi nanti kamu ganti ya?”
“Oke.”
Masalah kunci sudah teratasi. Aku kembali ke kampus. Sesampainya disana, ternyata acara masih belum selesai, tapi aku harus pulang, karena sudah sore. Saat mau pulang, aku melihat pacarku sedang duduk duduk sama genknya.
“Yank…. Yank…. Kamu nggak pulang bareng aku tah?” tanyaku kepadanya.
“Nggak, aku pulang sendiri ajah. Aku pulang sama Tiwi.”
“Oh, ya sudah, aku pulang dulu.”
Sejak saat itu hubunganku mulai merenggang. Mulai ada celah kecil. Namun, sebiasa mungkin aku menutup celah itu.
Aku selalu berpikir keras agar hubunganku tidak berakhir seperti yang dulu dulu. Aku minta pendapat dari siapa saja yang bisa membantu. Aku nggak mau hubungan itu berakhir begitu saja karena aku sudah lelah berkelana. Namun, semaki keras aku mencegah, serasa semakin lebar celah itu. Hingga suasana menjadi tegang selama satu minggu antara aku dan Grace, karena kau meminta kejelasan darinya. Karena aku semakin buntu, akhirnya kata ‘putus’ itu terucap lagi olehku.

0 komentar:

Posting Komentar