perjalalanan bocah part 3 - SMA

| Rabu, 15 September 2010 | |

MASA SMA

Setelah SMP pastilah SMA. Yah, kini aku sudah SMA. Setelah mengalami penantian panjang setelah UAN-SMP, pendaftaran ke SMA, akhirnya aku masuk di SMAN 2 Sidoarjo. Sekolah tujuanku yang utama. Selain sekolah negeri, juga dekat dengan rumahku, aku hanya tinggal jalan kaki untuk kesana. Yang paling utama adalah aku masuk sekolah negeri. Bantu meringankan beban orang tuaku. Karena kakakku sudah makan biaya banyak dengan sekolah di swasta.
Seperti halnya waktu SMP, masih ada kegiatan MOS sebagai siswa baru. Namun, suasananya sedikit berbeda. Ada bentak membentaknya dan peraturan peraturan yang tak penting. Kami semua harus datang pagi pagi sekitar jam setengah enam, membawa nasi bungkus untuk makan siang, minum, papan nama, simbol, pakaian putih-hitam, ah… ribet sekali. Hampir sama dengan SMP, intinya adalah pengenalan bagaimana dunia SMA itu; dunia baru bagi kami.
MOS pun berakhir. Hanya berlangsung selama tiga hari. Hari terakhir ditutup dengan penamilan ekskul bela diri, jabat tangan person to person dari kakak panitia dan art show dari kakak panitia dengan menyanyikan lagu Pria Kesepiannya Shella On7 dengan sedikit modifikasi. Menarik sekali:
Kami adalah kakak kakak panitia
Jauh dari rumah dan ditinggalkan cinta
Coba dengar keluhan kami, kakak panitia
Kamu t’lah berjani akan s’lalu datang pagi
Tapi kamu selalu datang di siang hari
Nanananana.. nananana….
Nanananana M.D. Hanna
Nanananana… nananana….
Nanananana M. D. Hanna
Kami adalah kakak kakak panitia
Jauh dari rumah dan ditinggalkan cinta
Setelah MOS, pelajaran pun dimulai. Namun, kelas masih belum punya struktur kepengurusan kelas. Akhirnya dibentuklah hal itu oleh Pak Yoyok, guru Biologi, pelajaran pertamaku di SMA. Beliau menunjuk empat orang dari kami sebagai kandidat pengurus kelas. Aku pun salah satunya. Walaupun kami belum begitu kenal, kami diharuskan untuk memilih siapa yang menjadi ketua, sekertaris dan bendahara. Akhirnya terpilihlah Oky sebagai ketua kelas, Amanda sebagai sekertaris, Puteri sebagai bendahara I. dan aku pasti jadi bendahara II.

Seiring dengan berjalannya waktu, kami pun terlihat semakin kompak, walaupun ada beberapa yang tak begitu. Hal ini terlihat saat pelajaran olah raga dan jam kosong. Hari demi hari kami lewati seperti tak ada beban, karena jiwa SMP kami masih melekat. Namun, ada suatu hal yang berbeda. Sering ada nonton film bokep bareng via HP. Laki laki dan perempuan tak jauh beda. Ditambah lagi, ada dua orang cewek yang punya kebiasaan bertingkah seperti laki laki. Itu dilihat dari cara duduknya yang selalu terbuka. Tak jarang menjadi sasaran “mata mata yang kurang kerjaan.” Aku pun sering mencari dan mencuri kesempatan untuk “melihat.” Tak jarang aku sering berfantasi sex karena terpengaruh banyak. Ditambah lagi, dua cewek itu duduk di belakangku dan bangku yang mereka tempati tidak ada penutupnya, sehingga dengan mudah untuk “melihat.” Tak hanya itu, salah satu dari mereka juga pernah memfoto dua bagian pribadinya. Sungguh menggiurkan bagi para lelaki dan sudah dianggap biasa baginya seperti itu.
Tiba akhirnya bagi kami untuk penjurusan antara IPA atau IPS saat kenaikan kelas. Kedua orang tuaku menghendaki aku masuk IPA. Karena kabarnya bakal biasa kemana saja saat kuliah. Namun kenyataannya aku meleset masuk di IPS dan teman temanku banyak yang masuk IPA. Namun aku tak seberapa memperdulikan hal itu, karena IPA atau IPS tergantung dari orangnya yang menjalani. Dan aku pun enjoy enjoy saja masuk IPS, karena tak terlalu sedikit juga yang masuk kesana. Ditambah lagi ada maskot. Yaitu Silvi, yang paras dan lekuk tubuhnya layaknya seorang bintang Catwalk.
Di kelas IPS, aku mendapat teman teman baru dari kelas lain yang tak aku kenal, hanya sekedar tahu. Namun, di dalam terlihat seperti ada kelompok kelompok. Terutama dari kelasku yang duduknya selalu mengelompok satu banjar. Walaupun begitu, kami tetap satu, terutama buat cowok cowoknya yang cepat sekali menyatu oleh sepak bola dan olah raga lainnya, karena kelas kami didominasi oleh laki laki, juga menjadi juara bertahan saat classmeeting setelah ujian. Namanya juga laki laki, pastinya demen sama olah raga. Bicara tentang natur laki laki, bicara tentang wanita. Di kelas dua ini aku masih belum bisa ngelupain Delonika. Karena semasa SMP, aku memujanya. Betapa sempurnanya anak perempuan itu di mataku. Saat semua sibuk ‘nggebet’, aku masih berkutak pada cimonku. Bisa dibilang, aku tak mau memandang ke depan. dan pada saat itu aku muali terbuka terhadap orang walaupun hanya kepada orang orang tertentu saja, perempuan khususnya. Saat itu juga aku punya seorang sahabat, yaitu Erry. Dia anak yang seperti dikucilkan oleh teman teman yang lain. Aku banyak cerita ini dan itu kepadanya, demikian sebaliknya sampai kelas tiga. Aku banyak mendapat masukan darinya.
Akhirnya naik juga ke kelas tiga. Tanpa terasa sebentar lagi akan masukbangku kuliah. Aku sudah punya ancang ancang mau masuk Universitas Airlangga jurusan sastra inggris. Namun, akhirnya masuk jurusan idamanku, sastra jepang. Semasa kelas dua dulu, aku sering main main. Walaupun sebenarnya aku hanya main saja. Kelas tiga ini, porsi mainku aku kurangi. Aku mulai focus supaya apa yang aku impikan bisa aku capai. Namun, tetap saja porsi mainnya masih yang paling banyak. Saat itu, aku mulai menutup pandangan kepada Delonika. Karena aku tahu itu nggak mungkin buatku. Aku mulai ‘hunting’ para adik kelas, dan aku mendapatkan dua ‘mangsa’, Angel dan Galuh. Juga aku mendapatkan kenalan yang bernama Ayu.
Angela Eka Febriani, perempuan itu yang bisa membuatku melupakan Delonika. Parasnya memang manis walaupun tak cantik. Siang itu, aku dan Imam yang sama sama sedang ‘hunting’ duduk di kantin.
“Wa, menurutmu cewek yang itu gimana? sip nggak?” tanyanya.
“Mmm.. manis juga.itu tah mangsamu? Siapa namanya? Cepet disikat, tar keburu ilang lho…” jawabku.

“Tenang, aku uda dapet nomer hapenya, so, tinggal sms-an. Urusan jadi ato nggak, itu belakangan. Kalo mau, ambil aja kalo bisa, hehehe….”
“Oke deh kalo gitu. Mmm… kalo cewek yang itu gimana menurutmu? Yang pake kacamata itu lho..?” sahutku.
“Oh.. dia tah.. namanya Ela. Wah, itu tah inceranmu, Wa? Mau tak kenalin juga tah? – La, Ela, Ela…. Ada temenku yang mau kenalan sama kamu – Wa, ini lho anaknya. Jok malu malu gitu donk….”
Sebenernya aku gak siap, tapi Imam maksa aku buat kenalan sama Angel. Sejak saat itu, aku berusaha untuk intens berhubungan dengan Angel.
Seiring berjalannya waktu, ada satu perasan suka dengannya. Dengan suatu rencana, aku ingin agar Angel mau berinteraksi denganku. Yang membuatku merasa bersalah yaitu membuatnya ngambek, yaitu berbohong kalo kartu pelajarnya yang aku pinjam itu hilang. Menurut perhtunganku, dia akan bingung. Dan memang benar, namun, untuk yang ngambek, itu tak masuk hitungan. Akhirnya aku kembalikan. Namun, Angel langsung membuat aku shock berat. Siang itu, saat akan meminjam kartu pelajarnya, ada seorang teman cowoknya lewat. Aku langsung bertanya,

“pacarmu tah, Ngel?”
“Iya.” Jawabnya.
Saat itu aku serasa jatuh dari ketinggian dan langsung hancur. Karena ternyata aku suka dan PDKT sama pacar orang. Walaupun aku menginginkannya, tapi aku tak mau mengganggu hubungan orang. Setelah usut punya usut, mereka sebelumnya memang sudah putus, tapi sudah rujuk kembali.
Dalam hatiku berkata,”SIAAAAAAALL!!!”
Hampir sama dengan saat berkenalan dengan Angel, aku juga berkenalan dengan yang lain, Galuh. Bisa dibilang, aku berkenalan tanpa sengaja, karena awalnya aku hanya ingin pinjam kamus bahasa inggris milik temanku yang juga temannya Galuh. Karena nggak bawa kamus, aku pinjam ke galuh. Mulai saat itu, aku sering ke kelasnya untuk pinjam kamus. Seiring waktu berjalan, ada gossip beredar, bahwa aku PDKT dengan Galuh. Sebenarnya aku juga tak menolak, tapi masa langsung begitu aja. Aku hanya mengikuti arah angin saja.
Tentang Ayu, aku mengenalnya dari temanku yang sering mendapat terror miscall dari nomor yang tak jelas. Setelah aku selidiki, akhirnya aku tahu ia bernama Ayu. Mulai saat itu, aku intens sms dia. Hingga pada suatu minggu siang, aku kerumahnya untuk bertemu untuk pertama kalinya. Komentarku pertama dalam hati,
“Not bad.”

Dan kami pun terus berkomunikasi. Aku pun menaruh hati padanya, karena ia orang yang bsa membuatku bingung bukan main, karena sebelumnya aku orang cuek. Pada suatu pagi ingin aku utarakan perasaanku, terjadi kesalahan dalam pertemuan. Sehingga itu semua gagal dan berantakan. Walaupun sebenarnya ia tahu aku menyukainya, rasanya kurang afdol kalau tak diutarakan langsung. Namun pada akhirnya semua itu hanya jadi sebuah keinginan belaka.
Aku sering mengirmkan puisi via sms ke Ayu. Dari sana ia tahu kalau aku ada rasa padanya. Karena aku masih penakut, aku utarakan perasaanku padanya lewat sms. Namun saat itu juga ia menolakku. Aku jadi penasaran, kenapa begitu. Hal ini berlangsung hingga tiga kali. Akhirnya aku menyerah, karena aku makin dibuat stress dengan tindakannya yang selalu tari ulur. Selang beberapa minggu, akhirnya aku punya pacar. Namanya Ida. Ia adik kelasku. Ia juga menjadi teman curhatku saat aku mengejar Ayu. Namun, ada yang aneh. Entah sejak kapan aku suka padanya. Padahal aku hanya iseng mengatakan
“Eh, mau nggak kamu jadi pacar aku?” lewat sms.
Dia pun menjawab, “Aku nggak mau kalo lewat sms,aku mau kamu ngomong langsung di depan aku. baru aku percaya.”
Pada minggu pagi, 27 Mei 2007. Aku untuk pertama kalinya mengatakan
‘AKU SUKA KAMU, MAU NGGAK JADI PACAR AKU.’

hari yang bersejarah buatku. Namun, ada sedikit kendala. Terjadi miskomunikasi waktu pertemuan. Ida datang terlambat karena habis begadang. Tadinya aku kecewa karena ia tak datang. Namun, setelah ia datang, aku katakana apa yanh jarus aku katakana. Namun, karena aku masih canggung dalam hal ini, sehingga perlu waktu untuk mengumpulkan keberanian dan merangkai kata kata. Ida pun menerima. Aku pulang dengan berbunga bunga. Namun, saat di rumah, aku mnerima sms yang isinya,
“Mas, benernya mbak Ayu itu mau jadian sama kamu, tapi dia takut sama ortunya. Juga kalian berdua beda agama. Walaupun mbak Ayu nggak masalahin, tapi balik lagi ke orang tuanya tadi.”
Aku hanya bisa terdiam membca sms itu. Setelah sedikit tenang, spontan aku menjawab,
“Kenapa dia nggak ngomong sendiri ke aku? kenapajuga bau sekarang? Aku baru aja jadian. Kalo gini, nambahi pikiranku aja.kenapa sih Ayu itu nggak mau jujur sama aku?”

Seminggu setelahnya, aku datang ke rumah Ayu dan meluruskan semuanya. Memang aku sedikit marah dan menyesalkan sikap Ayu itu. Tapi, aku bisa mengerti dan dia minta maaf padaku. Dan kami berjanji bakal berteman baik. Setelah masalah itu seesai, timbul masalah lain. Ida memutuskan untuk tidak kos lagi. Ia memutuskan untuk tinggal di rumah dan otomatis setisp hari pulang pergi Gempol – Sidoarjo.
Mendengar itu, aku shock. Kenapa setelah satu minggu jadian ia meninggalkan aku. ia beralasa karena kehendak orang tuanya. Sambil jalan, aku berusaha tak putus komunikasi dengannya. Namun aku merasa ada yang kurang jika hanya sms saja. Aku menjadi orang yang cerewet dan makin terkesan mengekang. Lebih lagi saat ia ada rekreasi dengan temannya yang kebanyakan cowok. Karena aku yang tak tahan dengan hubungan long distance. Aku memutuskan untuk mengakhiri hubungan kami. Walaupun sedikit berat, namun itu sudah keputusanku, dan aku harus terima konsekuensinya.
Hubungan itu hanya satu bulan lamanya. Selama itu, aku punya teman curhat. Winda, adik kelasku yang lain. Setelah putus, dia yang pertama kali tahu. Setelah putus, aku tak ada kontak dengan Ida. Aku lebih sering berkomunikasi dan bertemu dengan Winda. Selama aku berinteraksi dengannya, aku mulai suka dengannya. Sehingga aku putuskan untuk menjadin hubungan dengannya. Setelah jadi, kami sering keluar untuk menghabiskan waktu bersama. Kami sering melihat bintang. Walaupun aneh, tapi asik. Kami cerita ini dan itu. Sampai suatu malam aku memutuskan untuk menciumnya. Itu adalah pengalaman pertama bagi kami berdua, namun awal dari penyimpangan.


0 komentar:

Posting Komentar