MASA SMP
Selang satu bulan, hari yang ditunggu tunggu akhirnya datang juga, hari pengumuman kelulusan. Yah, aku lulus dengan DANEM yang cukup memuaskan orang tuaku, empat puluh satu koma lima puluh. Berbekal itu, aku pengen ngelanjutin ke SMP yang aku idam idamkan, SMPN 2 Sidoarjo, tapi aku tergeser karena nilaiku yang kurang sedikit namun menentukan. Akhirnya aku bersekolah di SMPN 4 Sidoarjo. Tak ku sangka sangka disana teman teman SD ku juga banyak yang bersekolah disana, tapi sahabatku Eric mutusin buat sekolah di Rembang, Jawa Tengah, agar dekat dengan neneknya. Dan disana pula, di SMP 4, aku menemukan ‘Cinta Monyet’ku, Delonika Regina.
MOS pun tiba, aku masih di antar mama dan bersama temanku Arif berangkat bersama. Ternyata SMP 4 tak seperti yang aku bayangkan sebelumnya, lokasi yang tak seberapa strategis dan masih berdebu dan sering kebanjiran saat musim hujan tiba. MOS pun dimulai, dan muailah pembagian kelas. Aku di kelas I-c bersama Kriski. Hampir di semua kelas ada teman temanku waktu SD. Pada hari ke dua MOS, ada suatu kejadian yang aku pun tak menyangka, aku menangis konyol dan tanpa alasan karena membaca surat buatanku sendiri. Memalukan.
MOS pun berakhir. Aku memulai kehidupan SMPku dengan teman teman baru. Seiring waktu berjalan, muncul pemain baru dalam pikiranku setelah Intan, yaitu Delonika Regina, cinta monyet dan cinta pertamaku hingga sekarang. Saat itu hanyalah sekedar lelucon buatku dari teman teman terhadap Iin, sapaan Delonika. Namun lambat laun rasa suka itu mulai muncul dan aku serasa hanyut di dalamnya. Kebetulan Iin adalah sekertaris di kelasnya, kelas I-E, sehingga ia sering disuruh suruh untuk me-Loby sekertaris kelas lain oleh guru tertentu. Tiba saat ia dipanggil oleh guru yang bersangkutan yang sedang mengajar di kelasku. Mau tak mau ia hrus datang karena ada suatu pesan yang harus disampaikan dan aku oun juga mau tak mau harus bertemu dengannya.
Sontak kelaspun menjadi ramai.
“Wa, itu lho Iin sudah dateng.”
”Ihiy..Dewa rek….”
“Lho Wa, jo diemae, pacare dateng kok diam seribu bahasa.”
Guru yang memanggil pun bertanya heran, “Lho, emang kenapa antara Dewa dangan Delonika?”
“Pacarnya, bu…!!!” suara serempak.
“Oalah..(sambi ltersenyum).”
Aku pun hanya tersipu malu dengan hal itu. Aku suka walaupun sebenarnya tidak. Gojlokan itu terus berlajut setiap Iin masuk ke kelasku. Dasar teman teman yang rame.
Berawal dari hal itu, aku jadi punya penyakit baru, ‘takut bertemu’, terutama saat Iin berjalan melewati kelasku. Aku jadi seperti keong saat ia melintas. Aku jadi seperti patung saat ia mendekat. Selama satu tahun aku tak bisa mengatasi hal itu. Sungguh Delonika itu membuatku mati kutu. Akupun kagum terhadap suranya. Ia selalu mendapatkan juara saat diadakan lomba karaoke sekolah tiap tahunnya. Selain itu kemampuan berbahasa asingnya juga bagus itambah lagi parasnya yang ayu dan kalem itu. Sungguh ia menjadi primadona bagiku.
Memasuki tahun ke dua, masih di kelas yang sama, kelas C; II-C. sebuah babak baru dam kehidupan SMPku. Aku dan teman teman lainnya sudah saling akrab, namun masih saja terlihat dua genk besar yaitu antara laki laki yang dipimpin oleh Aji susilo dan genk perempuan yang dipimpin oleh Amalia Zufrida (Menik). Di dalam tubuh genk perempuan pun ternyata masih terdapat genk genk kecil dan genk Menik adalah yang terbesar dengan anggota Anindy, Heppy, Elvira, Ayu dan Tanti dengan Menik sebagai ketuanya.
Bicara tentang genk, genk Menik ini sudah terbentuk sejak kelas satu, karena asal SD mereka yang sama. Genk itu merupakan genk yang manja tapi cerewet. Terutama Meik, Anindy, dan Heppy yang paling kentara oleh karena mereka selalu menjadi sasaran gojlokan Aji. Terlebih Menik, yang kelihatannya menganggap Aji itu musuhnya karena sikap reseknya itu.
Heppy yang cerewet selalu menjadi sasaran empuk Aji. Ia selalu menggodanya entah itu dengan perkataan biasa ataupun saling ejek nama orang tua.
“Ooo…dasar anaknya Salim, goblok..!!!. kemendel…!!!” kata Aji sinis.
“Biarin lho… dari pada anake Qusairi, kampungan, gak duwe etika…!!!” sahut Heppy.
“Udahlah Ji, kayak anak kecil aja kamu ini. Kalau naksir Hepy itu bilang ajah, gak apa apa kok…” sahut Menik menengahi.
“Lho, mbak Menik kok malah ngejodohin aku sama Aji sih?” sela Heppy.
“Lha kalian sih seru banget ejek ejekannya, kayak sepasang kekasih yang lagi bertengkar ajah. Ya.. sekalian tho dijodohin. Hahaha…!!!” jelas Anindy.
“Aah…males wes aku sama kalian…gak bolo, gak bolo” kata Heppy dengan ketus.
Lain hari, lain pula keusilan yang Aji perbuat terhadap genk Menik. Suatu ketika, Aji mengintip rok Anindy. Memang kali ini Aji tidak mengeluarkan kata kata yang tajam seperti biasanya, namun malah mengundang ‘mata-mata’ lain untuk melakukan hal yang sama. Anindy yng sebelumnya tak menyadari hal itu mulai risih dengan tindak tanduk Aji dan yang lain yang selalu melihat bagian bawah mejanya. Sontak kemudian Anindy berkata keras,
“Hei, kurang ajar kalian..!! lihat apa kalian…?? Sedari tadi ngelihatin bawah mejaku terus, ngintip ya…!!! Awas ya, aku bilangin pak Jen tahu rasa kamu.”
“siapa yang ngintip? Aku juga enggak takut kamu bilang ke siapa” jelas Anton.
Kejadian itu terulang beberapa kali hingga akhirnya Aji, Anton dan Hari tertagkap basah sedang mengintip oleh Anindy sendiri. Akhirnya, ia bersama Menik pergi ke ruang guru dan mengatakan hal itu kepada pak Jen. Beliaupun datang ke kelas.
“Yang mana Aji? Ayo maju sini” tanya beliau dengan tenang.
“Ada apa pak?” jawab Aji agak takut.
“kamu tadi dan kemarin kemarin ngintip roknya Anindy tah? Buat apa sih ngintip, toh kamu tidak mendapat apa apa dari hal itu, hanya nambah nambahi dosa.”
“Enggak sengaja pak.” Jawab Anton.
“Nggak sengaja kok terus?” desak pak Jen.
“Iya pak, Anindy sih duduknya enggak bener terus, ya tanpa sengaja terlihat olehku, ya aku lanjutin pak, kan sayang untuk dilewatkan.” Jelas Aji.
“Hahahahaha” riuh kelas.
“wes Nin, Aji ya enggak sepenuhnya salah, tapi tetep salah. Kenapa, karena kamu sendiri yang sudah kasih dia kesempatan. Jadi intinya, kamu sendiri juga harus bisa jaga sikapmu sebagai perempuan.”
“Iya pak, saya mengerti” jawab Anindy pelan.
“Tapi kalau Aji mulai kurang ajar, langsung bilang ke saya.” Tambah beliau.
“Beres pak.”
Aku tak berkomentar apa apa terhadap hal itu. Aku hanya tersenyum melihat tingkah laku mereka. Sungguh unik mereka semua. Di balik itu semua, kami tetap menjunjung tinggi persahabatan.
Memasuki tahun ke tiga, tiba saat kami berpisah. Genk Menik sudah bubar, karena diterapkan sistim kualifikasi kelas pilihan, yaitu kelas III-A dan III-B, juga karena sang ketua harus pindah dan bersekolah di Jakarta mengikuti orang tuanya yang dipindah tugaskan kesana. Isak tangis mengiringi hari perpisahan itu. Anggota genk Menik terpencar ke hampir seluruh kelas, termasuk ke kelas pilihan itu. Aku masuk kualifikasi kelas pilihan itu. Delonika pun juga, namun kami lain kelas. Ia di kelas A, sedang aku di kelas B.
“Wah, jadi makin dekat saja. Jodoh tuh…” kata salah satu temanku. Ada benarnya juga perkataan itu, aku sampai terbang dibuatnya.
Tahun ke tiga adalah tahun yang menarik buatku. Disamping tambah dekat dengan Delonka, aku juga mendapat teman baru yang berasal dari kelas lain yang sebelumnya tak aku kenali. Uniknya lagi, hanya ada sepuluh orang laki laki di kelasku. Sehigga, kelas di dominasi oleh pihak perempuan. Aku sampai tak mendapat tempat dan harus duduk di bagian paling belakang. Sangat bertolak belakang dengan postur tubuhku yang kecil. Karena biasanya yang kecil di depan. Tapi tak apalah, toh aku juga bisa berprestasi.
Walau kelasku bersebelahan dengan kelas Delonika, tapi tetap saja aku tak bisa bekata apa apa saat ada dia. Karena memang aku belum berkenalan dengannya dan tak tahu harus membahas apa saat bertatap muka. Aku memang telah menyia nyiakan waktu satu tahun lamanya. Pada tahun ke dua, tak banyak yang aku lakukan untuk bisa mengenal Delonika lebih dalam. Hanya sekedar menjadi penggemar rahasia walaupun sebenarnya dia tahu.
“Dasar Dewa bodoh..” gumamku saat mengingat hal itu.
Memang kenyataannya begitu. Aku terlalu takut untuk bertemu, terlebih berkenalan dengannya yang harus bertemu muka dengan muka. Bisa pingsan aku dibuatnya. Karena selama ini alu seperti keong saat bertemu dia.
Kesempatan memang tak datang dua kali. Tapi, aku berlkali kali mendapat kesempatan bertemu dia. Namun, yang aku lakukan hanyalah bersembunyi. Sehingga kesempatan itu berlalu begitu saja dan hanya penyesalan yang tersisa.
“Kenapa aku tadi tak menyapa dia, padahal sedari tadi aku bepapasan terus dengannya. Bodoh.. bodoh.. bodoh..” sesalku kepada temanku.
“Salahmu sendiri, kenapa kok enggak langsung ngomong?” kata Mustofa.
“Aku masih merancang konsepnya, Mus. Biar semua lancar dan bisa meninggalkan kesan yang manis.”
“Kelamaan bung. Terlalu lama mikir juga nggak baik, buruan bisa lari. Paham enggak?” tegas Mustofa.
“Teory is easy, man. Prakteknya susah buatku. Nah, kamu sendiri gimana sama si Julian Ayu Putri temannya Delonika? Sama aja tho.” Pembelaanku.
“(Mustofa tersenyum)”
“Eeee..malah senyam senyum sendiri. Belajar gila, mas? Buruan bertindak sono, entar keburu digondol orang lho, hihihi.” Sindirku.
“Ya biarkan saja Wa Dia mau digondol orang lain atau enggak, toh jodoh enggak kemana. Lagian kelasnya juga ada di sebelah kan? Jadi, aku bisa langsung kesana. Itu juga kalau dia mau aku hampiri.” Jelas Mustofa.
“hahahaha” kami tertawa bersama.
Yah, aku dan Mustofa menyukai dua orang yang saling bersahabat semenjak kelas satu. Mustofa menyukai Ayu, sahabat Delonika yang aku sukai. Wah wah, dua orang sahabat menyukai dua orang sahbat lainya. Aku dan Mustofa pun biasanya juga saling sindir manakala Ayu atau Delonika sedang melintas, atau bahkan saat mereka berdua sedang bersama.
“Mus, ada Ayu lho disana, enggak kamu ampiri tah?” kataku.
“Halah, bilang ajah kalau kamu yang mau kesana, ada Delonika juga kan?” jawab Mustofa.
“Hehehe, iya Mus, dia ada disana. Tambah cakep ajah anak itu.”
“Katakan cinta wes, katakan cinta. Tembak cepet, dor…!! dor…!! dor…!! Hahaha” sahut Mustofa dengan garing.
“Ngejek nih ceritanya..??” jawabku sambil terus menatap Delonika dari depan pintu kelasku.
Jika aku ingat ingat lagi masa masa itu, sungguh amat mans terasa. Ingin aku ulang saat saat aku berpapasan dengannya dan aku lakukan apa yang harus dan ingin aku lakukan. Namun, itu semua tinggal kenangan. Kenangan manis terhadap Cinta Monyetku. Tapi sebenarnya, sampai sekarang, aku masih belum memahami makna cinta itu seperti apa. Apa benar benih cintaku sudah mulai tumbuh saat itu. Ah… cinta… cinta… cinta…
Seiring berjalannya waktu, terdengar kabar yang mengejutkan. Temanku Indy ternyata memendam rasa terhadap Kriski sejak kelas dua. Padahal sebelumnya, ia selalu bilang TIDAK terhadap tuduhan itu dan malah melimpahkannya terhadap Linda. Ternyata dia termakan perkataannya sendiri. Namun, lebih mengejutkanku lagi saat ia menghampiriku dengan wajah yang sembab seperti habis menangis. Dan memang dia habis menangis. Padahal, tak penah akumelihatnya menangis sebelumnya. Ternyata dia menangis karena ada suatu kejadian yang menyakitkan. Telah terjadi tragedi ‘PENCIUMAN’ oleh Kriski terhadap Ayu.
Aku tak tahu sebab musabab terjadinya tragedi itu. Tapi tiba tiba Ayu menghampiriku dan berkata,
“Wa, tadi kamu dibilangi apa ajah sama Indy? Masalah tragedi itu ya? Gini ajah,kalau dia kembali lagi, bilang sama dia kalau pelakunya bukan Kriski, tapi Rio, oke?”
“Lho Ay, tapi bener kan pelakunya itu Kriski? kenapa harus bohong?” tanyaku.
“Kamu tahu kan kalau sebenarnya Indy suka sama Kriski? aku nggak mau dia tambah terluka kalau dia tahu yang sebenarnya. Aku juga nanti bakal bilang ke dia kalau pelakunya bukan Kriski, tapi Rio. Please Wa, please… jangan bilang Indy” terang Ayu.
Tak lama, Indy datang dengan terisak isak, namun ditutupinya. Aku oun sebenarnya bingung harus berbuat apa, karena sebelumnya tak pernah melihat perempuan menangis.
“(sedikit mengejek) kenapa kamu? Nangis? Ternyata kamu bisa nangis juga tho?” kataku.
“ya iyalah, namanya juga perempuan. Pastinye bisa nangis. Dodol..!!!” menanggapi perkataanku.
“Ayu tadi bilang apa ajah tentang tragedi itu? Katanya pelakunya bukan Kriski, tapi Rio. Tapi kabar burungnya kalau pelakunya itu Kriski.” tambahnya.
“(dengan niatan bercanda) hahaha… bener Kriski kok pelakunya.” Kataku.
“Eh, iya tah? Yang bener kamu?” tanyanya tak percaya.
“Eeee, kok nggak percaya, beneran kok.” Kataku sambil senyum.
“Suer?” “(aku mengangguk)”
“sebentar ya, aku mau ke kelas dulu.” Pamitnya.
“Oke. Nggak usah nangis lagi.” Kataku.
Semula aku kira ia termakan gurauanku. Tapi, ia menganggapnya serius dan mengkonfirmasi ulan ke Ayu. Akhirya Ayu mengaku yang sebenarnya. Air mata pun keluar dari mata Indy. Ia keluardan berjalan di belakang kelas. Saat aku melihat kebelakang kelas melalui jendea samping, bertepatan Indy sedang melintas sambil menangis. Aku pun tambah heran, kenapa dia menangis lagi.
“Kok nangis lagi? Ada apa tho sebenarnya?” tanyaku.
“Kamu benar, Wa, ternyata pelakunya memang Kriski. Ayu membohongi aku. Aku nggak tahu sekarang mesti gimana. Aku sedih, Wa, sedih and sakit hatiku. Sahabatku sendiri…(hikz) ngebohongin aku…(hikz).” Katanya sambil terisak isak.
“Waduh, sory, aku gak maksud buat….”
“nggak apa apa, Wa. Lebih baik sakit sekarang dari pada nanti, bisa gila aku. Trims, udah ngomong yang sebenarnya. Sudah ya, aku mau menyendiri dulu di luar.”
Melihat hal itu, aku tak bisa berkata apa apa. Hanya diam meliat Indy berlalu dengan menangis. Rasa bersalah dan senang karena berkata jujur menjadi campur aduk dipikiranku. Siangnya, Ayu menghampiriku dengan marah marah.
“Dewa, kamu itu gimana sih?! Aku kan sudah bilang tadi, tapi kenapa kamu malah ngomong yang sebenarnya?! Nggak kasihan tah kamu lihat Indy nangis kayak gitu?! Kalau dia Stres gimana. Kamu mau tanggung jawab?!”
“Maaf Ay, benernya niatku itu bercanda, tapi aku nggak tahu kalau dia konfirmasi ulang ke kamu. Aku yo kasihan lihat dia nangis kayak gitu. Sory Ay, sory banget…” kataku.
“Nggak tahu, Wa. Benci aku sama kamu…!!!”
Lalu Ayu pergi begitu saja dan aku hanya diam terpaku. Selama satu minggu Indy dan Ayu tak saling bertegur sapa. Dan aku hanya mengikuti apa yang mereka mau hinnga keadaan kembali normal seperti semula.
Akhirnya Indi dan Ayu bisa rukun kembali, dan masalah Kriski hilang dengan sendirinya. Aku tak mempermasalahkan hal itu. Tak lama berselang, ada pengumuman tentang lomba matematika. Aku yang kebetulan mendapat nilai 9, bisa ikut dalam lomba itu. Aku tak sendirian, bersama Mustofa dan Subhan dan teman teman dari kelas A. tak aku sangka Delonika juga ikut. Betapa senangnya aku. Tapi sayang, aku tak berpasangan dengannya. Namun jika aku berpasangan dengannya, bisa bisa aku mati kutu.
Pikirankupun terpecah jadi dua. Aku mulai berpikir bagaimana cara agar aku bisa ngomong sesuatu dengannya, karena aku pikir, itu moment yang tepat dan mumpung ada kesempatan. Namun, apa boleh dikata, semua hanya menjadi rencana belaka. Aku masih tenggelam dalam ketakutan, walaupun itu hanya sekedar untuk ‘say helo.’ Aku melewatkan kesempatan itu sia sia. Dalam lomba itu, sekolahku tak lolos penyisihan, padahal sudah menerjunkan banyak peserta. Namun, itu merupakan pengalaman yang mengesankan.
Ujian Nasional sudah dekat. Kami digenjot dengan tambahan pelajaran sedemikian rupa. Dengan tujuan agar kamisemua lulus dengan hasil yang tidak mengecewakan sekolah dan diri sendiri. Ujian pun dimulai, namun, saat hari pertama ujian, aku datang terlambat. Memalukan. Padahal hari hari biasa aku tak pernah terlambat. Untung saja guru pengawas masih memperbolehkan aku masuk. Setelah hari ujian lewat, akhirnya aku bisa bernafas lega menanti hasil. Dan sebagai agenda rutin, pasti ada rekreasi ke Bali. Namun sayang, aku tak bisa ikut karena tak ada biaya. Hikz.. hikz…. Sekembalinya dari sana, teman teman bercerita panjang lebar mengenai liburan itu. Membuatku iri saja. Dan Delonika pun berubah penmpilan. Tak seperti pertama dulu. Jujur saja aku tak suka dengan gayanya yang baru. Namun, aku punya hak apa melarang dia untuk tidak melkukan hal itu.
“Waduh In, gayamu itu kayak apa tho? Bagusan yang dulu. Mendingan rambutmu nggak usah kamu semir. Jelek.” Gumamku saat melihatnya.
Tiba sat pengumuman kelulusan. Dan tentu saja aku lulus dengan nilai yang tak mengecewakan. Namun, ada temanku yang tak lulus. Ia harus mengikuti ujian ulang supaya bisa lulus. Namun, hal itu nmenyita waktunya untuk mendaftar ke SMA. Walaupun begitu, akhirnya ia lulus juga. Pendaftaran sudah dibuka. Aku sudah punya target sekolah. Aku ajukan formulir pendaftaran yang sudah aku beli. Setelah menunggu satu bulan, akhirnya aku di terima di SMA Negeri 2 Sidoarjo.


0 komentar:
Posting Komentar