Dewa Cuma anak yang baru aja keluar rumeh ke dunia luar. Waktu kecil, dia Cuma berkutak sama dunianya yang kecil. Yah, selalu undercontrol orang tua gitu deh. Hal itu malah membuatnya jadi anak yang tertutup hingga masa remajanya.
Semasa SMA, dia mulai menyadari bahwa dia kudu keluar dari dunianya yang kecil itu. Dia mulai sedikit demi sedikit membangkang dan mencuri curi kesempatan. Sampai akhirnya dia menemukan hal dan dunia baru.
Dunia dan hal baru itu lambat laun mengubah karakter Dewa. Tembok yang ada mulai runtuh. Pintu yang tertutup mulai terbuka. Tapi bukan dengan keluarga, tapi ke orang lain. Ini menjadikannya seperti menemukan keluarga baru.
Cinta mulai menghinggapinya. Tapi dia selalu mengalami kepahitan dan kegetiran dalam cinta itu. Kisahnya selalu kandas di tengah jalan dan salah aplikasi dalam cintanya. Sampai saat terakhirnya, dia membawa kepahitan.
Siang itu Dewa sedang merenung gak tahu harus ngapain. Cuma merenung, natap langit. Gak tahu kenapa dia langsung mengambil laptop untuk menulis sesuatu di kamarnya, karena dia ingat dengan masa lalunya, sebelum dia pergi untuk selamanya. . . .
MASA SD
Saat itu adalah rekreasi pertamaku keluar kota dan jauh dari orang tua karena aku habis nyelesein Ujian Nasional SD. Rekreasi ke Jogja. Siang sebelum berangkat, aku dan mama pergi ke supermarket buat belanja snack dan kebutuhan lainnya buat perjalanan nanti malam. Gila..!!! banyak banget yang pengen aku bawa, tapi aku pikir, siapa yang mau ngabisin itu semua? Kalau ada teman yang suka, lha kalau enggak, sama saja buang buang duit. Akhirnya aku cuma ambil apa yang paling aku suka saja. Dan pastinya mama ngoceh ini dan itu. Lucu sekali saat itu.
Di rumah, aku packing ini dan itu dan semua yang perlu dibawa. Dan yang paling penting, gak lupa aku minta uang saku, yah… secukupnya saja untuk ukuran anak SD seperti aku. Gak kerasa waktu sudah jam sembilan malam. Sudah saatnya buat berkumpul di SDN Sidokare III tempatku bersekolah. Sudah banyak teman temanku yang berkumpul disana sejak setengah jam sebelumnya.
Satu per satu nama kami dipanggil buat mastiin kalau semua yang ikut sudah datang dan akan segera berangkat. Hanya ada beberapa saja yng masih belum datang. Sambil menunggu bus yang kami akan naiki, sekali lagi nama nama kami dipanggil. Namun, temanku yang belum datang tadi masih belum datang juga, padahal sudah waktunya berangkat. Gak diduga sebelumnya ternyata mereka sudah nunggu di dekat bus. Bikin panik saja mereka iu. Akhirnya kami berangkat, gak lupa mama berpesan ini dan itu, maklumlah kekhawatiran orang tua. Di dalam bus, aku duduk bertiga sama sahabatku, Eric dan Iwan. Selama perjalanan, kami semua gak bisa langsung tidur, tapi akhirnya tertidur juga, maklum, masih anak anak.
Perjalanan yang panjang akhirnya selesai sudah. Kami tiba di kawasan pantai Parang Tritis. Guru guru menyuruh kami semua buat bongkar muat, sarapan, bersih diri, sholat dan lain lain sebelum ke pantai, karena kebetulan kami tiba saat hari masih gelap, tepatnya masih subuh. Aku yang masih mengantuk turun dari bus buat menyegarkan diri dengan udara pagi Jogja untuk pertama kalinya. Mendengar perintah guru yang tadi, aku lekas mengambil susu kotak yang aku bawa dan akan
ku minum. Sebelumnya, aku sempat mencicipi bekal yang dibawa temanku, nasi serundeng. Namun, gak disangka aku mulai mual dan pusing setelah makan nasi itu dan lalu minum susu. Akhirnya, keluarlah apa yang telah masuk ke dalam perutku. Memalukan, aku muntah hebat saat itu. Menjijikan!
“Lho. Kok bisa muntah? Mabuk tah?” tanya Bu Narsih yang melihatku membungkuk di dekat bus.
“Gak tahu Bu, tadi habis makan nasi serundengku terus minum susu langsung muntah” jawab Ulum
“Ooo.. mungkin karena susunya dingin kena AC. Yo cepet di obati di dalem”
Setelah mendapat pertolongan pertama dari guru, aku akhirnya bisa pulih dari rasa mual itu dan bisa melanjutkan kegiatan selanjutnya. Fajar pun akhirnya muncul, kami semua serentak menuju pantai Parang Tritis; melihat ombak, bermain pasir dan air laut, menikmati angin laut di pagi hari dan berfoto foto ria, hingga tanpa sadar waktu sudah menjadi agak siang. Akhirnya kami semua kembali ke losmen tempat kami singgah sementara untuk membersihkan diri.
Aku yang membawa uang pas pasan hanya seperlunya saja membersihkan diri. Aku kira biaya yang harus aku keluarkan tidak penuh, tapi ternyata malah sebaliknya. Huh…payah…ya sudah, apa boleh buat. Teman teman yang tahu hal itu hanya ketawa dan menganggapku anak bodoh.
“Aduh Wa, kasihan kamu, Cuma cuci muka gak pake mandi harus bayar penuh, gitu kamu kok enggak bilang sama orangnya, dasar bodoh kamu..” kata Angga.
Bodohnya lagi, aku cuma bawa satu celana. Dan celana itu pun basah karena ombak di patai tadi. Otomatis celana dalamku juga ikut basah. Dan aku pun juga bawa satu celana dalam (ya yang aku pakai itu). Payah sekali aku. Bu Narsih yang tahu hal itu menyuruhku melepas celana dalamku saat itu juga. Tapi saat itu bus sudah berjalan menuju Candi Prambanan.
“Wa, celanamu basah ya? Kamu enggak ganti? Kamu bawa gantinya tho?” tanya Bu Narsih pelan.
Jawabku, “Iya bu, tadi basah waktu berfoto foto ria, tapi aku enggak bawa gantinya bu.”
“Lho gimana tho kamu ini, kalau masuk angin gimana? Udah sekarang kamu lepas celana dalammu ajah.”
“Dimana bu?”
“Iya ya, dimana enaknya? Ya sudah, di pojok pintu depan sana saja.”
“Lho bu, kelihatan orang..!!! apa lagi disana kan ada Ade, bisa malu aku.”
“Sudahlah, nurut saja, nanti saya suruh Ade minggir sebentar dan kamu saya tutupi biar yang lain enggak tahu, beres kan?”
“Ya sudah kalau begitu.”
Setalah bernegosiasi yang panjang, mau gak mau aku terpaksa menuruti perintah beliau walaupun sebenarnya aku malu. Karena aku harus melepas celanaku di pintu depan bus, sedangkan duduk di dekat situ ada Ade, sang primadona teman teman. Mengesampingkan rasa malu itu, akhirnya aku lakukan dan kembali duduk bersama Eric dan Iwan hingga akhirnya sampai di tujuan. Sungguh memalukan, namun mengesankan.
Sesampainya di tujuan, terkagum aku akan karya itu. Bersama teman teman, aku memasuki satu per satu candi yang konon ada seribu buah bangunan,namun hanya da beberapa saja yang masih berdiri tegak. Gak kusangka, ternyata kepala sekolahku dulunya tinggal di dekat candi itu semasa kecil, sehingga kami semua mendapat gambaran bagaimana candi ini sebelum kami lahir. Kemudian kami kembali ke bus untuk melanjutkan perjalanan ke tempat selanjutnya, Candi Borobudur.
Sesampainya disana, aku kira bisa langsung menuju candi seperti di Prambanan tadi. Kami harus berjalan kira kira lima atau delapan ratus meter dari tempat parkir bus dan itu pun sedikit menanjak. Bisa dibayangkan betapa melelahkannya bagi anak anak. Setelah sampai di atas pelataran candi, kami istirahat sejenak. Kemudian aku dan teman teman balapan lari sampai puncak candi. Huh, sungguh kelelahan aku saat itu. Namun hal itu terbayar dengan suguhan yang setimpal. Aku juga bertemu dengan ‘BULE’. Maksud hati pengen nomongn dengan mereka, tapi gak tahu kenapa mulutku jadi gagu. Untung ada temanku yang mencairkan suasana dengan tingkah konyolnya terhadap ‘BULE’ itu.
“Mister mister, ekscus me, can you cekrik cekrik we? (Mister mister, can you take our photograph?)” kata Angga.
Dan mereka pun bisa memaklumi hal itu dan mengambil gambar kami saat itu. Wah, mendebarkan dan mengesnkan sekali.
Tiba saat untuk kembali, kami semua berkumpul di dekat pintu keluar. Kali ini bukan menunggu teman temanku yang ‘mbeler’, tapi menunggu kepala sekolahku yang terpencar entah kemana sendirian. Bahkan anaknya sendiri gak tahu kemana bapaknya pergi. Gak lama, beliau muncul dengan wajah tanpa salah.
“Ngapain kalian di situ? Aku gak perlu ditunggu rek… yowes, ayo kembali.”
Aku yang gak sabar buat kembali, gak sadar malah terpencar dari kelompok. Aku kira aku tersasar. Bersama Eric, Iwan dan Ulum, aku terus berjalan ke tempat parkir bus kami sambil melirik lirik cindera mata yang menggoda. Gak lama akhirnya kami berempat sampai di tempat parkir. Tapi, kami mulai bingung bus mana yang kami naiki. Untung Iwan ingat nomor bus kami. Gak lama mencari, akhirnya ketemu juga. Tapi kami gak bisa langsung masuk karena terkunci, sehingga kami nunggu di luar sebentar sampai yang lain datang. Gak lama nunggu, akhirnya mereka semua datang dan kami bisa masuk ke dalam bus.
Kami semua diberi waktu buat belanja oleh oleh sebentar dan makan siang, tapi gak boleh jauh jauh dari bus supaya gampang dicari. Aku cuma beli dompet Dagadu Jogja, karena aku gak punya dompet, habis itu makan siang mie ayam, karena kebetulan yang paling murah.
Pas makan, ada yang ngomong “Wa, pacarmu kok enggak kamu bagi sih? Kasihan kan dia kelaparan. Paling gak kasih lah satu atau dua suapan. Hahaha.” Kata Eric yang menggoda aku dengan Intan yang kebetulan ada di dekatku.
Bisa dibilang sejak kelas enam aku suka Intan karena sama sama jadi dirigen pilihan pas upacara sekolah. Sampai sekarang pun rasa itu masih ada. Pengen banget aku ketemu.
Habis makan siang, kami akan melanjutkan ke tujuan akhir, yaitu Keraton Jogja, tapi ternyata tempat itu gak bisa dikunjungi karena kebetulan kami datang saat jam berkunjung sudah habis. Untuk itu kepala sekolah mutusin untuk langsung pulang saja tanpa mampir ke Malioboro, karena hari yang sudah panas dan anak anak sudah kelelahan.
Dalam perjalanan itu kami diberhentikan di pasar buah untuk oleh oleh. Aku cuma beli satu kilo salak pondoh, karena duitku mepet dan benernya aku pun gak mau repot bawa barang pas pulang. Lain dengan para guruku. Mereka rata rata membeli lima kilo ke atas salak pondoh, bahkan ada yang sampai satu keranjang penuh. Bisa dibayangkan bagaimana beliau akan membawanya. Setelah selesai, kami langsung pulang. Gak kayak berangkat, kali ini kami semua langsung tertidur. Hanya supir, kernet, pak Sur dan kepala sekolahku yang masih terjaga hingga sampai di Sidoarjo.
Sesampainya di Sidoarjo, dengan keadaan setengah ngantuk, kami semua turun dari bus dan disambut para orang tua kami yang sudah menunggu selama satu jam. Ternyata dalam perjalanan pulang itu, bus kami sempat nyasar sepuluh kilometer dan harus berputar dengan jarak yang sama. Setelah mendengar penjelasan itu, para orang tua kami bisa menerima keterlambatan kedatangan kami. Kami semua berpisah dan menuju rumah masing masing. Di rumah, ngantukku hilang dan cerita kejadian kejadian yang menyenangkan yang terjadi di Jogja. Tapi, tentang Intan, tetap jadi rahasiaku hingga sekarang. Setelah itu, akhirnya aku ngantuk lagi dan tidur dengan senang sekaligus lelah.

